Jurnalis: Zubir
BIREUEN, BEDAHNEWS.com – Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Sesditjen Pendis) Kementerian Agama RI, Prof. Dr. M. Arskal Salim GP, M.Ag., meninjau langsung progres pemulihan sarana dan prasarana Universitas Islam Aceh (UIA) Paya Lipah, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, Jumat (25/9/2026).
Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat perkembangan rekonstruksi kampus yang terdampak banjir pada November 2025 lalu. Selain meninjau pembangunan fisik, Prof. Arskal juga memberikan Kuliah Pembinaan Sumber Daya Manusia (SDM) bagi sivitas akademika UIA.
Humas UIA, Aulia Fitri, mengatakan kunjungan Sesditjen Pendis Kemenag RI tersebut secara khusus menjadi bagian dari monitoring terhadap perkembangan bantuan pemulihan pascabencana yang telah difasilitasi Direktorat Jenderal Pendidikan Islam.
Setibanya di kampus, Prof. Arskal bersama tim monitoring Ditjen Pendis terlebih dahulu mengikuti pertemuan dan dialog interaktif dengan pimpinan serta sivitas akademika UIA. Selanjutnya, rombongan meninjau sejumlah titik pembangunan sarana dan prasarana yang tengah direkonstruksi.
Peninjauan didampingi Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Keuangan UIA, Edi Mizwar, M.Pd., serta Wakil Rektor Bidang Akademik, Dr. Dhiauddin, M.Pd. Keduanya memaparkan perkembangan pembangunan fisik kampus hingga September 2026.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Ditjen Pendis Kemenag RI yang telah memfasilitasi bantuan pemulihan pascabanjir November 2025 lalu. Kami juga mengapresiasi kehadiran Pak Sesditjen beserta tim yang meninjau langsung perkembangan bantuan ini,” ujar Edi Mizwar.
Dorong PTKIS Jadi Pusat Keilmuan dan Solusi Masyarakat
Rangkaian kunjungan kemudian dilanjutkan dengan Kuliah Pembinaan SDM yang diikuti pejabat struktural, dosen, dan tenaga kependidikan UIA. Kegiatan yang berlangsung sekitar 90 menit tersebut turut dihadiri Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, Prof. Dr. Danial, M.Ag., beserta rombongan.
Dalam arahannya, Prof. Arskal menekankan pentingnya Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) memperkuat perannya sebagai pusat keilmuan, pembentukan karakter, sekaligus lembaga yang mampu memberikan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.
Menurutnya, perguruan tinggi tidak boleh berjalan terpisah dari lingkungan sosialnya. Pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi harus terus dikembangkan secara dinamis dan adaptif, terutama dalam menghadapi karakter mahasiswa dari generasi Z dan generasi Alpha.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Prof. Arskal memaparkan lima pilar yang dinilai penting dimiliki perguruan tinggi, yakni pondasi nilai keislaman, keilmuan dan kompetensi lulusan, literasi digital serta kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), entrepreneurial mindset atau pola pikir kewirausahaan, serta keterampilan sosial dan kepemimpinan.
“Lima pilar ini tidak hanya berlaku pada PTKIS, tetapi juga perguruan tinggi lainnya, karena tantangan zaman 10–20 tahun mendatang, mahasiswa kita akan didominasi oleh Gen Z dan Gen Alpha,” tegasnya.
Target Dosen Bergelar Doktor di Atas 23 Persen
Selain menyoroti penguatan kapasitas perguruan tinggi, Prof. Arskal juga menekankan pentingnya peningkatan kualifikasi akademik dosen.
Ia menyebut persentase dosen bergelar doktor di lingkungan PTKIS ditargetkan berada di atas 23 persen. Peningkatan kualifikasi tersebut dinilai penting untuk memperkuat mutu akademik dan kapasitas perguruan tinggi dalam menghasilkan lulusan yang berkualitas.
Menurut Prof. Arskal, peningkatan jenjang pendidikan dosen tidak semata-mata berkaitan dengan pencapaian akademik secara personal, tetapi harus berujung pada peningkatan kualitas pembelajaran, riset, dan kontribusi perguruan tinggi bagi masyarakat.
Dengan demikian, pemulihan sarana dan prasarana pascabanjir diharapkan berjalan seiring dengan penguatan kualitas SDM, sehingga UIA tidak hanya kembali pulih secara fisik, tetapi juga semakin mampu meningkatkan mutu pendidikan dan kontribusinya bagi masyarakat Aceh.











