Penulis: Nanda Safarifa, ME
(Dosen Ekonomi Syariah FEBI IAIN Langsa [minat : Islamic Behavioral Economics)
Menelisik bagaimana budaya lokal menutupi kelemahan otak dalam menghadapi bencana
Menjadi laboratorium bagi bencana ekologis, Indonesia seolah terus menjalani uji coba untuk bangkit dari keterpurukan akibat bencana. Badai hidrometeorologi kering seperti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang tahun 2026 dari skala kecil hingga terus meluas terjadi di Kubu Raya, Palangka Raya, Ogan Komering Ilir dan berbagai hutan dan lahan di belahan nusantara lainnya. Badai hidrometeorologi basah yang baru delapan bulan berlalu di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat dan kembali menjadi ancaman untuk akhir tahun 2026 ini. Belum lagi julukan Badai siklon Godzilla oleh para pakar iklim sebagai gambaran super El Nino ekstrem yang mengancam akan terjadi lagi di tahun 2026 yang juga ikut memberi peringatan. Sehingga pertanyaan bijak berikutnya bukan hanya kapan akan terjadi tapi sudah bersiapkah kita saat badai benar terjadi? Makna bersiap ini niscaya lahir dari kesadaran akan fenomena yang terjadi tidak hanya saat ini tapi juga beberapa saat ke depan. Bagaimana seorang individu dengan eksistensi ‘otak’ yang dimiliki mampu melahirkan keputusan-keputusan rasional untuk tetap survive baik dalam jangka waktu pendek maupun panjang.
Neuroeconomic merupakan salah satu diskursus dalam ilmu ekonomi yang menarik namun masih jarang dibincangkan. Paul W. Glimcher dalam buku berjudul “Neoroeconomics: Decision making and the brain” menggambarkan neuroekonomi sebagai bentuk interdisipliner dari berbagai ilmu seperti ilmu saraf (neuroscience), ilmu psikologi dan ilmu ekonomi perilaku yang bertujuan untuk memahami bagaimana otak manusia mengambil keputusan ekonomi. Pembahasan semakin menarik jika kemudian dikaji tentang pemahaman bagaimana otak mengambil keputusan ekonomi di tengah badai atau krisis yang tentunya bukanlah sebuah kalkulasi yang ringan.
Terdapat tiga kelemahan bawaan otak terkait dengan kebencanaan. Pertama, “ambiguity aversion” dimana otak manusia lebih senang bertaruh dengan risiko yang jelas peluangnya dibandingkan memproses ketidakpastian yang dirasa ambigu. Alhasil, investasi untuk mitigasi jangka panjang sering kali dikesampingkan untuk kebutuhan mendesak jangka pendek. Kedua, “diskonto temporal” dimana hasil penelitian menunjukkan adanya pendevaluasian risiko di masa yang akan datang. Sehingga sering kali proyek-proyek berbiaya rendah dan berdampak jangka pendek lebih dipilih dibandingkan dengan investasi proyek infrastruktur tahan bencana yang dampaknya baru bisa dirasakan dalam 20 tahun kedepan.
Fenomena ini sejalan dengan teori yang disampaikan oleh peraih nobel ekonomi, Daniel Kahneman terkait dua sistem berfikir manusia (sistem 1: cepat, intuitif dan emosional dan sistem 2: lambat, analisis dan penuh perhitungan). Dalam situasi mendesak dan ketidakpastian, otak cenderung menggunakan sistem 1 untuk keputusan cepat dengan jalan pintas kognitif (heuristics) meski sering bias dalam menakar risiko sebenarnya. Ini menjelaskan mengapa masyarakat mengabaikan ancaman bencana jangka panjang dan baru panik ketika bencana sudah di depan mata. Dalam konteks ekonomi, sistem 1 yang mancari rasa aman instan juga lebih mendominasi dari sistem 2 yang mengkalkulasikan manfaat secara jangka panjang. Terutama saat memutuskan terkait pembelian asuransi, tabungan dana darurat atau malah pemenuhan kebutuhan mendesak dari seluruh pendapatan. Begitu halnya pada level kebijakan dimana alokasi anggaran lebih diprioritaskan untuk dana tanggap darurat dibanding investasi infrastruktur tahan bencana berdampak puluhan tahun ke depan.
Ketiga, “afektif epidemiology” dimana dalam status darurat, respon manusia bukanlah perilaku tunggal namun serangkaian respon berurutan mulai dari respon naluriah dan singkat, kemudian reaksi yang lebih rasional tergantung bagaimana otak memproses informasi. Dalam dinamika yang lebih kompleks perilaku refleks, kepanikan dan perilaku terkendali saling berinteraksi. Dengan demikian, kepanikan massal atau disengagement justru sering terpacu sebagai hasil dari narasi bencana yang dirasa terlalu menakutkan.
Lebih jauh berbagai penelitian yang berkorelasi dengan dampak bencana terhadap preferensi risiko di Indonesia mengungkapkan bahwa tingkat keparahan dan besarnya dampak dari suatu bencana akan menentukan cara pandang terhadap risiko. Risk-averse atau sikap menghindari risiko akan selalu terjadi pada individu setelah mengalami bencana. Namun, berapa lama sikap itu akan bertahan tergantung pada seberapa dalam otak manusia merekam kengerian akibat dampak dari suatu bencana. Dengan kata lain, bencana seperti gempa dan tsunami yang menyebabkan kamatian massal akan memberi dampak perubahan sikap risiko lebih lama yaitu mencapai satu dekade baru kemudian memudar. Beda halnya dengan bencana banjir dan tanah longsor yang memakan korban lebih sedikit yang memberi dampak perubahan resiko hanya dalam jangka waktu yang singkat saja.
Indonesia dalam hal ini tidak harus memulai dari titik nol untuk membangun awareness kebencanaan. Berbagai studi ilmiah merekomendasikan dan mendorong kearifan lokal sebagai pendekatan penting dalam mitigasi bencana. Kearifan lokal adalah ‘antidote’ bagi kelemahan kognitif sekaligus membangun kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana. Sebutlah “Smong” dari Simeulue, satu contoh sempurna dari banyak kearifan lokal lainnya di nusantara. Smong yang bermakna tsunami merupakan seni tutur berupa nandong (senandung) yang dilantunkan secara turun temurun yang mampu menyelematkan ribuan jiwa dari tsunami tahun 2004. Secara neuroekonomi, smong menciptakan jalur cepat di otak dimana ketika gempa kuat dan air laut surut, keputusan berlari ke tempat tinggi bukan hasil dari analisis panjang tetapi respon otomatis yang tertanam lintas generasi. Dari sisi artisitektur, rumah gadang dengan pasak kayu dari Minangkabau, rumah dari bamboo, ijuk dan sabut kelapa di Banten, rumah panggung setinggi 2-3 meter di Lampung, kesemuanya itu bentuk teknologi lokal untuk mengasah otak dan perilaku bertahan. Disamping itu nilai-nilai social seperti aron di tanah karo dan tradisi mahantam di Kabupaten Agam, Sumatera barat, merupakan bentuk kepedulian dan kolaborasi di masa sulit.
Neuroekonomi merupakan pengingat bahwa keputusan rasional yang terbaik tidak hadir dari data semata namun perlu diikuti oleh pemahaman bagaimana idealnya otak berkerja dan bagaimana budaya membentuk kerja otak. Upaya mitigasi semestinya memanfaatkan kekuatan memori lokal daerah sekaligus harus mampu mengakomodir tiga fase respon (fase naluriah, fase panik dan fase terkendali) yang alamiah terjadi di otak. Selain itu, komunikasi risiko yang terlampau menakutkan harus digantikan dengan narasi keampuhan (efficacy) akan tindakan komunal yang mampu menyelamatkan. Di tengah bencana ekologis dan ketidakpastian iklim, modal besar kearifan lokal nusantara mampu mengubah ancaman jauh menjadi peringatan dekat, respon sadar menjadi reflek kolektif dan keputusan individual menjadi aksi komunal.










