Jurnalis: Zubir
JAMBI, BEDAHNEWS.com – Wakil Rektor III Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI) Bireuen, Dr. H. Kamaruddin, S.Pd., M.M., melakukan kunjungan refleksi akademik dan budaya ke dua destinasi bersejarah di Provinsi Jambi, yakni Candi Muaro Jambi dan Jembatan Gentala Arasy, pada 21–24 Juni 2026.
Kunjungan tersebut dilakukan di sela keikutsertaan dalam ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an Mahasiswa Nasional (MTQMN) 2026 yang berlangsung di Universitas Jambi. Momentum ini dimanfaatkan sebagai ruang pembelajaran untuk menelusuri keterkaitan antara sejarah peradaban, pendidikan, dan nilai-nilai Islam.
Menurut Kamaruddin, situs-situs bersejarah tidak hanya menjadi objek wisata, tetapi juga dapat berfungsi sebagai media edukasi yang membentuk cara pandang generasi muda terhadap pentingnya menjaga warisan budaya dan memperkuat karakter.
“Situs sejarah seperti Candi Muaro Jambi maupun kawasan Gentala Arasy merupakan laboratorium sosial yang mengajarkan pentingnya toleransi, penghargaan terhadap sejarah, pelestarian budaya, dan pembangunan karakter mahasiswa,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (26/6/2026).
Destinasi pertama yang dikunjungi adalah Kompleks Candi Muaro Jambi, kawasan cagar budaya seluas hampir 4.000 hektare yang merupakan peninggalan era Kerajaan Melayu dan Sriwijaya. Situs ini dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan terbesar di Asia Tenggara pada abad ke-7 hingga ke-13 Masehi, sehingga kerap disebut sebagai “universitas” kuno di Nusantara.
Bagi Kamaruddin, keberadaan Candi Muaro Jambi menjadi bukti bahwa tradisi intelektual dan semangat keilmuan telah tumbuh di Indonesia sejak masa lampau serta memiliki keterkaitan dengan nilai Islam yang menempatkan ilmu sebagai fondasi peradaban.
Perjalanan kemudian dilanjutkan ke kawasan Jembatan Gentala Arasy yang membentang di atas Sungai Batanghari. Kawasan ini juga memiliki menara museum yang menyajikan sejarah perkembangan Islam di Jambi serta menjadi penghubung antara pusat kota dan kawasan Seberang Kota Jambi yang dikenal sebagai pusat budaya Melayu Islam.
Dalam kunjungan tersebut, Kamaruddin turut mengapresiasi masyarakat Jambi yang dinilai mampu menjaga harmoni antara identitas keislaman dan pelestarian warisan sejarah.
Ia menilai falsafah masyarakat Jambi, “Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah”, tercermin melalui upaya merawat situs-situs sejarah sebagai bagian dari identitas daerah sekaligus wujud moderasi beragama.
Melalui momentum MTQMN 2026, UNIKI berharap mahasiswa tidak hanya memahami Al-Qur’an secara tekstual, tetapi juga mampu mengimplementasikan nilai-nilai moral, ilmu pengetahuan, dan semangat peradaban dalam kehidupan nyata demi membangun masa depan yang tetap berpijak pada akar budaya bangsa.








