Abrasi Parah Hantam Pesisir Jangka, Batu Gajah Sepanjang 2 Kilometer Segera Dipasang di Alue Kuta

  • Whatsapp

Jurnalis: Zubir

BIREUEN, BEDAHNEWS.com – Pemerintah mulai melakukan penanganan darurat terhadap abrasi dan banjir rob yang menghantam kawasan pesisir Desa Alue Kuta, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen. Selain penutupan tanggul yang jebol, penanganan permanen berupa pemasangan batu gajah penecah ombak sepanjang 2 kilometer juga segera direalisasikan.

Muat Lebih

Hal tersebut disampaikan Camat Jangka, Mulyadi SP MSM kepada Bedahnews.com, Kamis (28/5/2026).

Menurut Mulyadi, langkah tanggap darurat saat ini dilakukan melalui kolaborasi DT Peduli bersama masyarakat setempat dengan menutup tanggul yang sebelumnya jebol akibat diterjang banjir rob dan gelombang pasang.

“Pekerjaan penanganan darurat sudah dilakukan sejak beberapa hari terakhir. Alhamdulillah, kondisi di lapangan untuk sementara sudah tertangani agar abrasi tidak semakin meluas,” ujar Mulyadi.

Ia menjelaskan, penanganan permanen nantinya akan difokuskan pada pembangunan struktur pemecah ombak menggunakan batu gajah di sepanjang garis pantai rawan abrasi.

“Penanganan permanen akan dilakukan dengan pemasangan batu gajah pemecah ombak sepanjang kurang lebih dua kilometer, mulai dari kawasan Kuala Ceurape hingga Jangka Alue,” jelasnya.

Mulyadi menyebutkan, ancaman abrasi tidak hanya terjadi di Desa Alue Kuta, tetapi juga mulai meluas ke sejumlah desa pesisir lainnya di Kecamatan Jangka. Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, abrasi akibat gelombang laut pasang purnama turut mengancam Desa Jangka Alue U, Pante Ranup, Pante Paku, Pante Sukon, Pulo Pineung Meunasah Dua hingga Desa Punjot.

Bencana tahunan yang dipicu gelombang laut tinggi sejak empat hari terakhir itu menyebabkan kerugian besar bagi masyarakat pesisir. Sejumlah fasilitas umum rusak, aktivitas ekonomi lumpuh, hingga tambak warga terancam gagal panen.

Kerusakan parah dilaporkan terjadi pada bangunan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) dan sejumlah kios di kawasan wisata kuliner pantai. Selain itu, lahan perkebunan serta tambak udang milik warga juga mengalami kerusakan serius akibat terjangan air laut.

“Bencana ini sebenarnya hampir terjadi setiap tahun. Namun gelombang besar yang terjadi kali ini menyebabkan banyak tambak warga rusak karena sistem sirkulasi air terganggu. Banyak warga terancam gagal total,” ungkapnya.

Persoalan abrasi di kawasan pesisir Jangka, lanjut Mulyadi, telah menjadi ancaman berkepanjangan yang membutuhkan penanganan serius dan berkelanjutan dari pemerintah.

Sebelumnya diberitakan, banjir rob pasang purnama yang terjadi pada Sabtu (16/5/2026) pagi sempat melumpuhkan aktivitas warga di Desa Alue Kuta. Sebanyak 22 Kepala Keluarga (KK) di Dusun Matang Pasi terisolasi setelah dua ruas jalan desa putus total akibat diterjang gelombang laut.

Kondisi serupa juga dialami 20 KK di Dusun Berawang. Air laut meluap hingga ke permukiman warga setelah tanggul penahan ombak dari pasir jebol diterjang arus pasang.

Di lokasi bencana, satu ruas jalan desa dilaporkan putus di dua titik berbeda, masing-masing sepanjang sekitar 50 meter dan lebih dari 100 meter. Kerusakan tersebut membuat akses transportasi lumpuh total dan warga sempat terisolasi selama beberapa waktu.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *