Jurnalis: Zubir
BIREUEN, BEDAHNEWS.com – Pemerintah mulai merealisasikan program revitalisasi terhadap 22 Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) di Kabupaten Bireuen yang mengalami kerusakan akibat banjir bandang pada akhir November 2025 lalu. Proyek rehabilitasi tersebut didanai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2026.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdin) Wilayah IV Bireuen, Abdul Hamid, S.Pd., M.Pd, mengatakan proses revitalisasi saat ini sedang berjalan di sejumlah sekolah dengan tingkat kerusakan yang bervariasi.
“Revitalisasi sedang berlangsung. Ada 22 sekolah yang terdampak banjir, mulai dari wilayah Gandapura, Peusangan, Jeunieb hingga Samalanga,” ujar Abdul Hamid kepada BEDAHNEWS.com, Senin (11/5/2026).
Sekolah yang masuk dalam program revitalisasi tersebut di antaranya SMAN 1 Gandapura, SMAN 1 Makmur, SMAN 1 Peusangan Siblah Krueng, SMAN 2 Kutablang, SMAN 1 Peusangan Selatan, SMAN 1 Peusangan, SMAN 2 Peusangan, SMAS Al Furqon, SMKN 1 Peusangan, dan SMAN 3 Peusangan.
Selain itu, perbaikan juga dilakukan di SMAN 1 Jangka, SMAN 1 Peulimbang, SMKN 1 Jeumpa, SMKN 1 Jeunieb, SMAS Nurul Islam, SMKS Kesehatan Muhammadiyah, SMAN 1 Samalanga, SMAN 2 Samalanga, SMAS Muslimat, SMAS Al Hanafiyah, SMKS Alhidayah, serta SLB YTC Kutablang.
Salah satu sekolah yang mengalami perbaikan menyeluruh adalah SMAN 1 Peulimbang. Kepala sekolah setempat, Erni, S.Pd., M.M, mengatakan proses belajar mengajar terpaksa dipindahkan sementara ke gedung SMPN 1 Peulimbang yang berada di sebelah sekolah mereka.
“Karena masa pengerjaan mencapai 180 hari kalender, siswa kami untuk sementara belajar pada siang hari di gedung SMP. Walaupun belum maksimal, proses pembelajaran tetap harus berjalan,” kata Erni saat ditemui di lokasi proyek.
Ia menjelaskan, revitalisasi di SMAN 1 Peulimbang meliputi perbaikan 12 ruang kelas, tiga laboratorium IPA, satu gedung administrasi, serta pengadaan mebel dan perabot sekolah baru.
Untuk mengantisipasi banjir yang kerap melanda kawasan tersebut, pihak Cabang Dinas Pendidikan juga meminta agar struktur bangunan sekolah ditinggikan.
“Gedung sekolah dan ruang administrasi kita minta ditinggikan sekitar 70 sentimeter. Kami juga berharap penimbunan halaman sekolah segera dilakukan agar saat banjir tahunan datang, air tidak lagi masuk ke ruangan,” jelas Abdul Hamid.
Pihak dinas menargetkan seluruh proses revitalisasi rampung pada Juni hingga awal Juli 2026, sehingga fasilitas pendidikan dapat kembali digunakan secara normal saat tahun ajaran baru dimulai.
Sementara terkait kerusakan alat praktik laboratorium akibat banjir, Abdul Hamid menyebut pihaknya telah mengusulkan pengadaan kembali melalui skema dana Transfer ke Daerah (TKD).
Program revitalisasi ini diharapkan mampu memulihkan kualitas sarana pendidikan di Bireuen pascabencana sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman dan nyaman bagi siswa maupun tenaga pendidik.








