Jurnalis: Zubir
BIREUEN, BEDAHNEWS.com – Di tengah keterbatasan ekonomi, langkah kecil terkadang menjadi awal dari sebuah perubahan besar.
Hal itulah yang tengah dijalani Jusmi, gadis muda asal Desa Samuti Makmur, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen, Aceh. Dengan tekad dan kerja keras, ia memilih membangun usaha sendiri setelah bertahun-tahun bekerja dan mengumpulkan pengalaman.
Pada Minggu (26/9/2026), sebuah gerai ayam goreng sederhana resmi dibuka Jusmi. Gerai tersebut bukan sekadar tempat berjualan makanan, tetapi menjadi simbol perjuangan seorang perempuan muda untuk berdiri di atas kaki sendiri.
Perjalanan menuju usaha mandiri itu tidaklah mudah. Setelah menamatkan pendidikan di bangku SMA, Jusmi sempat bekerja membantu usaha milik saudaranya. Dari sana, ia mulai belajar bagaimana melayani pelanggan, mengelola dagangan, hingga memahami seluk-beluk menjalankan usaha.
Keinginan untuk memiliki usaha sendiri semakin kuat ketika Jusmi memutuskan bekerja kepada orang lain. Setiap hari ia menerima upah sekitar Rp20 ribu.
Jumlah tersebut memang tidak besar. Namun, bagi Jusmi, setiap rupiah yang diperoleh merupakan bagian dari perjuangan untuk menata masa depan.
Ia tetap bekerja dan menyisihkan penghasilannya. Selama kurang lebih dua tahun, pengalaman dan sedikit demi sedikit modal yang dikumpulkan menjadi bekal untuk mewujudkan impiannya membuka usaha sendiri.
Kini, kerja keras itu mulai menemukan bentuknya.
Gerai ayam goreng yang dirintis Jusmi menjadi langkah pertamanya untuk membangun kemandirian ekonomi. Ia tidak lagi hanya bekerja untuk orang lain, tetapi mulai menciptakan ruang bagi dirinya sendiri untuk berkembang melalui usaha yang dibangun dari hasil jerih payahnya.
Di balik semangat tersebut, tersimpan kisah kehidupan yang tidak ringan.
Jusmi merupakan anak ke-10 dari 11 bersaudara. Ia tumbuh dalam keluarga dengan kondisi ekonomi yang terbatas. Keadaan tersebut membuatnya terbiasa hidup sederhana dan belajar mandiri sejak usia muda.
Ujian hidup semakin berat ketika kedua orang tuanya meninggal dunia.
Sang ayah berpulang ketika Jusmi masih berusia 14 tahun. Enam tahun kemudian, ketika usianya menginjak 20 tahun, sang ibu juga meninggal dunia.
Kehilangan kedua orang tua di usia muda membuat perjalanan hidup Jusmi tidak selalu mudah. Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya menyerah pada keadaan.
Justru dari berbagai keterbatasan itulah, tumbuh tekad untuk berusaha dan membantu menopang kehidupan keluarga.
Bagi Jusmi, usaha ayam goreng yang kini dijalankannya mungkin masih sederhana. Namun, setiap proses di baliknya memiliki arti besar. Ada pengalaman bekerja, upah yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, hingga keberanian mengambil keputusan untuk memulai usaha sendiri.
Perjalanan Jusmi menjadi gambaran bahwa kemandirian tidak selalu dimulai dari modal besar. Terkadang, ia berawal dari keberanian untuk mencoba, ketekunan menjalani proses, serta kemauan untuk tidak menyerah ketika keadaan belum berpihak.
Dari gerai sederhana di Desa Samuti Makmur, Jusmi kini mulai merajut harapan baru.
Ia berharap usaha ayam goreng tersebut dapat terus berkembang, menjadi sumber penghasilan yang lebih baik, sekaligus membuka jalan menuju kehidupan yang lebih mandiri.
Kisah Jusmi mengajarkan satu hal sederhana: keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Dari penghasilan kecil dan langkah yang sederhana, masa depan tetap bisa diperjuangkan.











