Kenduri Laut di Peulimbang Bireuen, Nelayan Santuni Anak Yatim dan Minta TPI Segera Diperbaiki

  • Whatsapp

Jurnalis: Zubir

BIREUEN, BEDAHNEWS.com – Lembaga Panglima Laot Lhok Kuala Peulimbang bersama para nelayan dan masyarakat menggelar kenduri laut di pinggir Kuala Gampong Seuneubok Peulimbang, Kecamatan Peulimbang, Kabupaten Bireuen, Senin (10/8/2026) pagi.

Muat Lebih

Kegiatan yang menggabungkan tradisi adat dan nilai keagamaan tersebut diisi dengan doa bersama yang dipimpin Pimpinan Dayah Almunawarah Seuneubok Peulimbang, Tgk Sayed Usman. Acara juga dirangkai dengan pemberian santunan kepada puluhan anak yatim dari sejumlah gampong di Kecamatan Peulimbang.

Sekretaris Panglima Laot Lhok Kuala Peulimbang sekaligus Ketua Panitia, H Taeb, mengatakan kenduri laut tersebut merupakan kegiatan perdana yang digelar sejak terbentuknya kepengurusan baru di bawah Ketua Zulbahri dan Wakil Ketua Muhammad Alamsyah.

Menurutnya, kenduri laut diharapkan dapat menjadi agenda rutin masyarakat pesisir, baik setiap tahun maupun dua tahun sekali. Rencana tersebut mendapat dukungan dari para keuchik di Kecamatan Peulimbang.

“Kami menggagas kegiatan ini dengan harapan bisa dilaksanakan rutin setiap tahun atau dua tahun sekali. Rencana ini didukung penuh oleh seluruh keuchik di Kecamatan Peulimbang sehingga kenduri laut hari ini dapat terlaksana,” ujar H Taeb.

Ia menjelaskan, kenduri laut tidak sekadar menjadi bagian dari tradisi masyarakat pesisir, tetapi juga menjadi momentum mempererat silaturahmi dan ungkapan rasa syukur para nelayan atas rezeki yang diperoleh dari hasil laut.

Selain itu, doa bersama juga menjadi bentuk ikhtiar masyarakat untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT agar para nelayan senantiasa diberikan keselamatan saat melaut.

“Selain kenduri laut, dalam memperingati musibah tsunami Aceh kami juga selalu berpartisipasi menggelar doa bersama secara sederhana,” katanya.

Santuni Anak Yatim dari Lima Gampong

Dalam kegiatan tersebut, panitia juga menyerahkan santunan kepada anak yatim dari lima gampong di kawasan pesisir Peulimbang.

Kelima gampong tersebut yakni Gampong Seuneubok Peulimbang, Kuta Trieng, Padang Kasab, Krueng Baro, dan Seuneubok Seumawe.

Pemberian santunan menjadi bagian dari kepedulian masyarakat nelayan terhadap anak-anak yatim sekaligus memperkuat semangat kebersamaan dalam pelaksanaan kenduri laut.

Nelayan Minta TPI Peulimbang Diperbaiki

Di balik pelaksanaan kenduri laut, para nelayan juga menyampaikan aspirasi terkait kondisi infrastruktur pendukung aktivitas perikanan, khususnya Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Peulimbang yang saat ini mengalami kerusakan.

H Taeb menyebut sekitar 500 nelayan Peulimbang menggantungkan mata pencaharian dari laut, mulai dari nelayan yang menggunakan bot berukuran kecil hingga kapal pukat langga dengan kapasitas mencapai 25 Gross Ton (GT).

Menurutnya, TPI Peulimbang memiliki peran penting dalam aktivitas ekonomi nelayan karena menjadi lokasi masuknya hasil tangkapan sebelum dipasarkan kepada pedagang ikan.

“Hasil tangkapan nelayan di sini dibawa ke TPI Peulimbang. Hasil laut tersebut bukan hanya dibeli oleh muge (pedagang) ikan lokal Peulimbang, tetapi juga dipasok ke Kota Bireuen hingga Kabupaten Pidie,” ujarnya.

Karena itu, pihaknya berharap Pemerintah Kabupaten Bireuen memberikan perhatian terhadap kondisi TPI tersebut agar aktivitas bongkar muat dan pemasaran hasil tangkapan nelayan dapat berjalan lebih baik.

“Kami sangat berharap Bapak Bupati dan jajaran memberi perhatian untuk memperbaiki TPI yang rusak,” harap H Taeb.

Sementara itu, Keuchik Seuneubok Peulimbang, Zulfahmi, mengapresiasi sinergi antara Panglima Laot Lhok Peulimbang, para keuchik yang tergabung dalam Apdesi Peulimbang, serta Pemerintah Kabupaten Bireuen.

Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung terlaksananya kegiatan kenduri laut yang telah dipersiapkan masyarakat sejak jauh hari.

Ia berharap tradisi kenduri laut dapat terus dilestarikan sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat pesisir sekaligus menjadi momentum memperkuat persatuan dan kepedulian sosial antarwarga.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *