Jurnalis: Zubir
BIREUEN, BEDAHNEWS.com – Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi Aceh segera melakukan penanganan darurat terhadap saluran induk Irigasi Pante Lhong di Kabupaten Bireuen yang mengalami kerusakan dan dipenuhi endapan sedimen. Langkah ini diharapkan mempercepat distribusi air ke areal persawahan menjelang musim tanam gadu.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bireuen, Mulyadi SE MM, mengatakan penanganan kini difokuskan pada jaringan saluran irigasi setelah pekerjaan darurat pada Bendung Irigasi Pante Lhong selesai dilaksanakan.
Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Bireuen telah berkoordinasi dengan Dinas SDA Aceh, bahkan tim teknis telah turun ke lapangan untuk meninjau kondisi saluran yang rusak.
“Penanganan tahap awal akan difokuskan di tiga kecamatan, yakni Juli, Jeumpa, dan Kota Juang. Perbaikan saluran yang rusak serta pengerukan sedimen menjadi prioritas agar air irigasi dapat mengalir kembali ke lahan pertanian,” ujar Mulyadi.
Ia menjelaskan, perbaikan tersebut sangat mendesak. Pasalnya, apabila pintu bendung dibuka tanpa terlebih dahulu memperbaiki jaringan irigasi, air berpotensi terbuang akibat kebocoran saluran dan tertahan oleh endapan sedimen.
Sebelumnya, pekerjaan tanggap darurat Bendung Irigasi Pante Lhong di Gampong Beunyot, Kecamatan Juli, yang rusak diterjang banjir bandang pada November 2025, telah rampung. Namun hingga kini air belum dapat dialirkan secara optimal ke areal persawahan.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Operasi dan Pemeliharaan Irigasi Pante Lhong Dinas SDA Wilayah III Aceh, Suherman, menjelaskan struktur sisi selatan bendung telah selesai diperbaiki dan air sudah mengalir hingga mercu bendung.
Meski demikian, distribusi air ke jaringan irigasi sekunder dan tersier belum dapat dilakukan secara penuh karena masih banyak saluran yang rusak dan tertutup sedimentasi.
“Dengan kondisi debit sungai saat ini dan hasil penanganan darurat yang telah dilakukan, pasokan air diperkirakan baru mampu mengairi sekitar 2.000 hektare sawah di Kecamatan Juli, Jeumpa, dan Kota Juang,” kata Suherman.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan petani karena musim tanam gadu telah dimulai, sementara air irigasi belum tersedia.
Mantan Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kota Juang yang juga Ketua Keujruen Blang Kota Juang, M. Yusuf Ahmad (65), berharap pemerintah segera mempercepat perbaikan saluran dan pengerukan sedimen agar petani dapat kembali mengolah sawah.
“Musim tanam gadu sudah dimulai, tetapi sawah belum bisa digarap karena air irigasi belum mengalir. Di sisi lain, kami juga sedang menghadapi musim kemarau,” ujarnya.
Ia menuturkan, kerusakan bendung akibat banjir tahun lalu membuat petani terpaksa melewatkan musim tanam rendengan. Akibatnya, banyak sawah tidak tergarap dan mulai ditumbuhi ilalang.
Untuk mempertahankan penghasilan, sebagian petani kini memanfaatkan lahan sawah yang kering dengan menanam palawija, sembari menunggu penanganan darurat dari Pemerintah Aceh rampung sehingga jaringan irigasi kembali berfungsi normal.








