Jurnalis: Zubir
BIREUEN, BEDAHNEWS.com – Harapan masyarakat Kecamatan Peusangan dan Peusangan Siblah Krueng untuk kembali terhubung akhirnya terwujud. Pasca putusnya jembatan rangka baja akibat banjir bandang pada November 2025 lalu, kini warga dapat kembali menyeberang melalui Jembatan Apung “Kepala Hiu” yang resmi difungsikan.
Jembatan sepanjang 55 meter dengan lebar 2,5 meter tersebut mulai beroperasi setelah melalui prosesi adat peusijuk (tepung tawar) yang dipimpin Tgk Zulfahmi, Imum Chik Kemesjidan Nurul Huda Gampong Raya Tambo, Kamis (7/5/2026).
Pemilik jembatan, Muakhir (32), menjelaskan bahwa konstruksi jembatan dirancang adaptif terhadap kondisi sungai yang dinamis. Dengan sistem semi-hidrolik berbasis tali seling, jembatan dapat ditarik ke tepi sungai saat debit air meningkat atau saat terjadi kiriman sampah dari hulu.
“Kalau ada informasi air naik, jembatan bisa segera dievakuasi ke pinggir untuk menghindari kerusakan. Setelah aman, baru kita pasang kembali,” jelas Muakhir.
Pembangunan jembatan ini memakan waktu sekitar 15 hari, menggunakan material kayu serta lebih dari 60 drum plastik sebagai pelampung. Nama “Kepala Hiu” diambil dari desain ujung pelampung yang meruncing, berfungsi sebagai pemecah arus agar jembatan tetap stabil.
Untuk operasional, pengguna sepeda motor dikenakan biaya Rp5.000 per lintasan. Dana tersebut digunakan untuk menggaji sekitar 20 petugas yang berjaga selama 24 jam guna memastikan keamanan dan memantau kondisi sungai. Sementara bagi pejalan kaki, penyeberangan diberikan secara gratis.
“Lokasi ini dipilih karena bentang sungainya relatif lebih sempit, sehingga lebih aman dan stabil untuk jembatan apung,” ujar Rahmat, salah satu pekerja.
Keberadaan jembatan ini juga membangkitkan kenangan lama bagi masyarakat. Keuchik Pante Lhong, Murizal, menyebut kondisi saat ini serupa dengan era 1970-an ketika warga masih mengandalkan rakit dan perahu untuk menyeberang.
“Dulu masyarakat pakai gatek dan perahu. Tahun 1979 baru ada jembatan gantung, lalu jembatan rangka baja pada 1990-an yang putus saat banjir 26 November 2025,” ungkapnya.
Hadirnya Jembatan Apung “Kepala Hiu” diharapkan mampu memulihkan mobilitas serta aktivitas ekonomi masyarakat di kedua wilayah yang selama ini terhambat akibat putusnya akses utama.








