Puluhan Nakes Puskesmas Simpang Mamplam Bersihkan Lumpur Pustu Secara Mandiri tanpa Bantuan Alat Berat

  • Whatsapp

Jurnalis : Zubir

BIREUEN, BEDAHNEWS.com – Kondisi sejumlah fasilitas kesehatan di Kabupaten Bireuen pascabanjir bandang 26 November 2025 masih terus memprihatinkan. Salah satu titik terdampak terparah terlihat di Puskesmas Pembantu (Pustu) Pante Baro Glee Peusangan, yang hingga kini belum kembali beroperasi akibat tumpukan lumpur tebal.

Muat Lebih

Hingga Rabu (31/12/2025), layanan medis di Pustu tersebut masih lumpuh total. Endapan lumpur yang mengisi ruang pelayanan, ruang pemeriksaan, hingga area penyimpanan alat medis belum tertangani secara maksimal sehingga aktivitas kesehatan tidak dapat berjalan.

Pantauan di lapangan menunjukkan, puluhan tenaga kesehatan dari Puskesmas Simpang Mamplam bersama Kepala Puskesmas, Suryani SKM, bergotong royong membersihkan bangunan tersebut secara swadaya. Mereka menggunakan alat seadanya untuk mengeruk lumpur yang memenuhi hampir seluruh bagian gedung.

Meski musibah telah berlalu genap 30 hari, para nakes mengaku belum mendapatkan dukungan relawan atau alat berat dari pihak terkait.

“Kami berusaha membersihkan lumpur ini secara mandiri agar akses masuk setidaknya bisa terbuka. Sampai hari ke-30 ini belum ada relawan khusus atau alat berat yang membantu,” ujar salah seorang tenaga medis kepada Bedahnews.com.

Untuk saat ini, fokus pembersihan baru menyasar area luar gedung seperti pekarangan dan teras. Langkah darurat ini dilakukan agar warga yang membutuhkan pertolongan tetap bisa mendekat ke fasilitas kesehatan, meski pelayanan di bagian dalam masih belum dapat difungsikan.

Bukan hanya di Pante Baro, kondisi lebih parah kembali ditemukan di Gampong Glee Siblah, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng. Hingga memasuki penghujung tahun 2025, desa tersebut masih dikepung material lumpur tebal sisa banjir bandang, menutup akses jalan utama hingga merendam rumah warga dan fasilitas publik. Situasi ini dikhawatirkan memicu persoalan kesehatan baru jika tidak segera ditangani.

Warga dan tenaga kesehatan berharap langkah cepat dari Pemerintah Kabupaten Bireuen. Mereka meminta pengerahan armada pemadam kebakaran untuk penyemprotan lumpur serta bantuan alat berat guna percepatan pemulihan.

“Kapasitas kami terbatas jika hanya mengandalkan tenaga manual. Kami sangat membutuhkan bantuan penyemprotan air dan alat berat agar layanan kesehatan bisa segera beroperasi,” harap para nakes.

Lumpuhnya sarana kesehatan di wilayah terdampak menjadi catatan kritis di akhir tahun, mengingat akses terhadap layanan medis pascabencana merupakan kebutuhan vital bagi masyarakat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *