Kasus Tilap Dana Bantuan Korban Lion Air, Eks Petinggi ACT Divonis 3,5 Tahun Penjara

  • Whatsapp

Mantan Presiden Aksi Cepat Tanggap (ACT), Ahyudin (tengah).(Foto:Antara/Rivan Awal Lingga).

JAKARTA, BEDAHNEWS.com – Mantan Presiden Yayasan Aksi Cepat Tanggap (ACT), Ahyudin, yang terjerat kasus dugaan penggelapan dana bantuan sosial untuk korban jatuhnya pesawat Lion Air tahun 2018, divonis hukuman penjara 3,5 tahun.

Muat Lebih

Vonis terhadap Ahyudin dibacakan Hakim Ketua Hariyadi dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Selasa, (24/1/2023).

“Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan pidana penjara selama tiga tahun enam bulan penjara,” kata Hakim Ketua Hariyadi dalam persidangan.

Vonis hakim terhadap Ahyudin masih lebih rendah dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum. Jaksa menuntut Ahyudin hukuman penjara empat tahun. Tuntutan serupa dilayangkan jaksa terhadap dua terdakwa lainnya, Ibnu Khajar selaku Presiden ACT 2019-2022 dan Hariyana Hermain eks Vice President Operational ACT.

Vonis penjara 3,5 tahun terhadap Ahyudin usai hakim menilai bahwa terdakwa terbukti melakukan tindak pidana penggelapan dana dari Boeing Community Investment Fund (BCIF).

Dana dari BCIF itu ditujukan untuk para korban jatuhnya pesawat Lion Air pada 2018 silam.

Majelis hakim mempertimbangkan hal-hal yang meringankan dan meberatkan hukuman terhadap Ahyudin. Dalam menyusun putusan tersebut, majelis hakim mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan meringankan.

Untuk hal yang meringankan, Ahyudin berterus terang dan mengakui kesalahannya. Selain itu, ia saat ini memiliki keluarga dan belum pernah dihukum.

Adapun untuk hal yang memberatkan, perbuatan terdakwa dinilai meresahkan masyarakat luas serta menimbulkan kerugian bagi masyarakat, khususnya bagi ahli waris korban dan penerima manfaat dari dana sosial tersebut.

Jaksa Penuntut Umum dalam sidang sebelumnya pada Selasa, 27 Januari 2022 menuntut Ahyudin dengan hukuman empat tahun penjara. Ahyudin, kata jaksa, melakukan dugaan penggelapan dana BCIF.

Adapun BCIF adalah dana yang diberikan oleh The Boeing Company untuk keluarga korban tragedi jatuhnya pesawat Lion Air pada 29 Oktober 2018.

Jaksa menyatakan, yayasan ACT sudah menggunakan dana bantuan dari BCIF senilai Rp117 miliar dari dana yang diterima sebesar Rp138.546.388.500. Sementara dana yang mereka salurkan pada korban kecelakaan pesawat Lion Air hanya diimplementasikan sebesar Rp20.563.857.503 oleh yayasan ACT.

Dana sisa itu justru digunakan oleh para terdakwa tidak sesuai dengan implementasi yang telah disepakati bersama Boeing. Atas putusan hakim tersebut, Ahyudin dan tim kuasa hukumnya menyatakan akan menggunakan waktu tujuh hari dalam mengajukan banding.

Editor : Bung Dewa

Sumber : Pikiran Rakyat

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *