Polres Bireuen Gelar Apel Pasukan Karhutla, Empat Kecamatan Jadi Prioritas Pengawasan

  • Whatsapp

Jurnalis: Zubir

BIREUEN, BEDAHNEWS.com — Kepolisian Resor (Polres) Bireuen menggelar Apel Gelar Pasukan Pencegahan dan Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) 2026 di halaman Mapolres Bireuen, Kamis (3/9/2026) pagi.

Muat Lebih

Apel tersebut digelar sebagai langkah antisipasi meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan seiring puncak musim kemarau yang diprediksi berlangsung di Aceh.

Apel dipimpin langsung Kapolres Bireuen AKBP Yulhendri dan dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Bireuen, pimpinan instansi terkait, serta organisasi masyarakat seperti RAPI dan ORARI.

Dalam amanatnya, Yulhendri menyampaikan, berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Aceh memasuki periode puncak musim kemarau pada Juni hingga September 2026. Kondisi tersebut, ditambah fenomena El Nino kategori lemah, berpotensi meningkatkan kerawanan kebakaran di lahan kering, perkebunan, semak belukar, hingga kawasan gambut.

Polres Bireuen telah melakukan pemetaan terhadap wilayah yang dinilai memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi. Hasilnya, terdapat empat kecamatan yang menjadi prioritas pengawasan karena tercatat memiliki titik kebakaran terbanyak, yakni Kecamatan Jangka, Peusangan, Peudada, dan Juli.

Meski demikian, Kapolres mengapresiasi upaya personel di lapangan yang dinilai berhasil menekan potensi Karhutla melalui langkah pencegahan dan patroli.

Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, Polres Bireuen mencatat lebih dari 9.000 kegiatan patroli dan penjangkauan masyarakat. Dari jumlah tersebut, pemadaman langsung tercatat hanya dua kali.

Menurut Yulhendri, kondisi tersebut menunjukkan bahwa upaya pencegahan dini dan sosialisasi kepada masyarakat berjalan efektif.

Untuk memperkuat pencegahan dan penanganan Karhutla, Kapolres Bireuen menekankan tujuh langkah utama. Pertama, meningkatkan sosialisasi dan edukasi di wilayah rawan kebakaran.

Kedua, mengoptimalkan peran Bhabinkamtibmas bersama masyarakat di tingkat desa sebagai ujung tombak pencegahan. Ketiga, memperkuat sinergi antarinstansi dan menghindari ego sektoral.

Keempat, melakukan penegakan hukum secara tegas dan profesional terhadap pelaku pembakaran lahan. Kelima, memastikan kesiapan sarana dan prasarana, mulai dari peralatan pemadam, kendaraan, jaringan komunikasi hingga logistik.

Keenam, memperkuat pemetaan dan deteksi dini dengan memverifikasi laporan titik panas secara cepat serta mengidentifikasi sumber air terdekat. Ketujuh, mengutamakan keselamatan personel melalui penerapan SOP, penggunaan alat pelindung diri (APD), serta pemantauan kondisi medan.

Yulhendri juga mengimbau masyarakat agar tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Warga diminta turut mewaspadai sumber api sekecil apa pun, termasuk puntung rokok dan sisa api unggun yang belum sepenuhnya padam.

“Karhutla adalah musuh bersama karena dapat merusak ekosistem, mengganggu kesehatan, hingga memukul perekonomian. Dengan kerja keras, disiplin, dan sinergitas, kita optimis mewujudkan Bireuen bebas asap,” ujar Yulhendri.

Usai memimpin apel, Kapolres Bireuen bersama unsur Forkopimda melakukan pengecekan langsung terhadap kesiapan sarana dan prasarana pendukung penanganan Karhutla.

Pengecekan tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh personel, peralatan, kendaraan, serta dukungan lainnya dalam kondisi siap digunakan apabila terjadi kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kabupaten Bireuen.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *