Jurnalis: Zubir
ACEH BESAR, BEDAHNEWS.com – Dewan Pengurus Cabang (DPC) Aliansi Dosen Akademik dan Kevokasian Seluruh Indonesia (ADAKSI) LLDIKTI Wilayah XIII Aceh menyalurkan wakaf Al-Qur’an dan berbagai perlengkapan ibadah kepada masyarakat Gampong Lambarih Bakmee, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Aceh Besar, melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Bina Desa.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, mulai 31 Juli hingga 2 Agustus 2026, mengusung tema “Pemberdayaan Masyarakat dalam Meningkatkan Kualitas Peribadatan Berbasis Nilai Keislaman dan Kearifan Lokal”. Program ini merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang secara rutin dilaksanakan setiap semester oleh para dosen anggota DPC ADAKSI Aceh.
Ketua Pelaksana PKM, Prof. Dr. Yahya Kobat, S.E., M.Si., mengatakan kegiatan tersebut bertujuan mempererat sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat desa, sekaligus mendorong peningkatan kualitas peribadatan serta pembinaan akhlak generasi muda sejak usia dini.
“Sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan sarana ibadah, tim dosen DPC ADAKSI menyalurkan berbagai bantuan kepada meunasah, balai pengajian, dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) di Gampong Lambarih Bakmee,” ujar Prof. Yahya kepada wartawan, Jumat (7/8/2026).
Bantuan yang disalurkan meliputi wakaf Al-Qur’an, kitab-kitab keagamaan, rekal atau alas baca Al-Qur’an, karpet dan tikar, lampu, kipas angin, serta perlengkapan kebersihan seperti sapu. Bantuan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan masyarakat dalam menjalankan kegiatan ibadah dan proses belajar mengajar di TPA.
Kehadiran rombongan dosen disambut hangat oleh Keuchik Gampong Lambarih Bakmee, Amiruddin. Selain penyerahan bantuan, kegiatan juga diisi dengan silaturahmi, diskusi mengenai penguatan pendidikan keagamaan bagi anak-anak, serta penjajakan kolaborasi berkelanjutan antara perguruan tinggi dan pemerintah gampong dalam mendukung pembangunan masyarakat.
Ketua DPC ADAKSI LLDIKTI Wilayah XIII Aceh, Dr. Masyudi, S.Kep., M.Kes., berharap program Bina Desa tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Melalui kegiatan ini kami berharap terjalin sinergi yang berkelanjutan antara kalangan akademisi dan masyarakat sehingga dapat melahirkan gampong yang religius, berdaya saing, serta tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal Aceh,” pungkasnya.











