Jurnalis: Zubir
BIREUEN, BEDAHNEWS.com — Misteri kematian dua pelajar asal Kecamatan Simpang Mamplam, Kabupaten Bireuen, yang sempat diduga akibat kecelakaan lalu lintas tunggal, akhirnya berhasil diungkap jajaran Polres Bireuen. Polisi memastikan kedua korban meninggal dunia akibat tindakan kriminal setelah dikejar oleh sekelompok remaja bersenjata tajam.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Bireuen, AKP Dedi Miswar, menjelaskan pengungkapan kasus tersebut bermula dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) serta keterangan sejumlah saksi yang dinilai janggal. Dugaan kuat adanya tindak pidana semakin mengarah jelas setelah pihak keluarga korban, Amirul Mukminin, melaporkan kejadian itu secara resmi.
“Awalnya kami menduga ini kecelakaan tunggal biasa. Namun setelah dilakukan penyelidikan mendalam, diketahui ada unsur pidana yang menyebabkan sepeda motor korban mengalami kecelakaan hingga terjatuh ke dalam parit,” ujar Dedi, Sabtu (25/4/2026).
Polisi kemudian bergerak cepat dan berhasil menangkap tiga tersangka di rumah masing-masing pada Selasa (21/4/2026). Ketiganya masing-masing berinisial ML (18), YF (18), dan ZR (17). Dua pelaku utama diduga terlibat langsung dalam aksi pengejaran yang berujung maut tersebut.
Atas perbuatannya, para tersangka dijerat dengan Pasal 459 Jo Pasal 458, subsider Pasal 262 Jo Pasal 48, serta Pasal 307 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP. Mereka terancam hukuman pidana penjara antara 15 hingga 20 tahun.
Keberhasilan Polres Bireuen mengungkap kasus yang sempat menyita perhatian publik itu mendapat apresiasi dari Anggota Komisi V DPR RI, H. Ruslan Daud (HRD). Ia memuji langkah cepat tim Satreskrim Polres Bireuen dalam membongkar penyebab kematian Masjidil Aqsa (17) dan Amirul Mukminin (17).
“Kami sangat bangga kepada aparat kepolisian karena tidak membutuhkan waktu lama untuk mengungkap kasus ini. Ini menunjukkan keseriusan aparat dalam memberikan rasa keadilan kepada masyarakat,” kata Ruslan saat ditemui di sela kunjungan kerjanya ke Dayah Darul Munawwarah, Pidie Jaya.
Menurut Ruslan, peristiwa tragis tersebut menjadi alarm serius bagi masyarakat terhadap maraknya aksi kekerasan yang melibatkan remaja di Aceh, khususnya di Kabupaten Bireuen. Ia menilai perlu adanya sinergi yang lebih kuat antara aparat penegak hukum, pihak sekolah, serta keluarga dalam mencegah kenakalan remaja.
Ruslan juga mengimbau para orang tua agar lebih meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak mereka agar tidak terjerumus ke dalam tindakan kriminal yang dapat merusak masa depan.
“Peristiwa seperti ini jangan sampai terulang lagi. Lingkungan yang aman, nyaman, dan kondusif harus kita ciptakan bersama,” pungkasnya.








