Kekeringan Landa Bireuen, Ribuan Hektare Sawah Terancam Gagal Panen

  • Whatsapp

BIREUEN, BEDAHNEWS.com – Petani di Kabupaten Bireuen, Aceh, kini dihadapkan pada ancaman nyata gagal panen menyusul menyusutnya debit air di sejumlah sungai utama, termasuk Krueng Peusangan dan Krueng Batee Iliek.

Kondisi ini telah berlangsung selama tiga minggu terakhir, menyebabkan terganggunya distribusi air ke areal persawahan melalui jaringan irigasi.

Muat Lebih

Ribuan petani sawah tadah hujan dan irigasi kini menjerit, sementara solusi cepat dan tepat belum juga terlihat.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Kadistanbun) Bireuen, Mulyadi SE MM, tak menampik parahnya kondisi ini. Kepada Bedahnews.com pada Senin (7/7/2025), Mulyadi mengakui banyaknya laporan dari petani yang mengeluhkan kekeringan.

“Debit air Krueng Peusangan turun drastis, menyebabkan distribusi air ke petani kurang maksimal.

Petani di Jangka, yang menjadi sumber air jaringan irigasi Pante Lhong, belum mendapatkan air padahal sawah mulai digarap,” ujar Mulyadi. Ia menambahkan, banyak petani bertanya-tanya mengapa air belum sampai ke sawah mereka.

“Jawabannya, debit air Krueng Peusangan turun tajam sehingga air belum tembus ke sana,” tegasnya.

Solusi Tak Kunjung Datang, Petani Merana

Tak hanya Krueng Peusangan, kondisi serupa juga terjadi di Krueng Batee Iliek yang debit airnya terus menurun, membuat pasokan air bagi petani tidak mencukupi sama sekali.

Lebih parah lagi, para petani sawah tadah hujan disebut Mulyadi kian merana lantaran tidak memiliki sumber air alternatif.

“Ada petani yang mengandalkan sumur bor, tapi sangat tidak memadai untuk skala luas,” keluh Mulyadi.

Menjawab pertanyaan mengenai solusi, Mulyadi dengan jujur mengakui bahwa hingga kini belum ada terobosan cepat dan tepat yang ditemukan.

“Kalau sudah musim kemarau, cuaca cukup panas, debit air sungai turun tajam, apalagi waduk alam kekurangan air, jalan keluarnya belum terlihat,” paparnya.

Pihak Distanbun Bireuen sendiri, lanjut Mulyadi, akan terus memantau kondisi dan berkoordinasi dengan para penyuluh pertanian di lapangan.

Hal ini dilakukan untuk mendapatkan laporan terkini mengenai kondisi sawah dan menggali potensi solusi dari masing-masing kecamatan.

“Kami akan melakukan koordinasi dengan penyuluh lapangan untuk langkah apa yang dapat dilakukan membantu petani di berbagai desa,” pungkas Mulyadi.

Kondisi ini menambah daftar panjang tantangan yang dihadapi sektor pertanian di Bireuen. Tanpa solusi konkret dan cepat, ancaman gagal panen massal bisa menjadi kenyataan, berimbas pada kesejahteraan petani dan ketahanan pangan daerah.

Laporan : Zubir

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *