Beralih dari Menanam Ganja ke Tanaman Produktif dengan Nilai Ekonomi Tinggi

  • Whatsapp
banner 468x60

Jurnalis: Zubir

BIREUEN, BEDAHNEWS.com – Keberhasilan program Grand Design Alternative Development (GDAD) di Kabupaten Bireuen, yang dilaksanakan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) selama empat tahun terakhir, dinilai telah memberi hasil cukup menggembirakan dalam upaya pemberantasan narkotika jenis ganja di bumi serambi Mekkah.

Muat Lebih

Demikian disampaikan Kepala BNN Propinsi Aceh, Bringjen Pol Drs Heru Pranoto, M.Si saat ditemui BEDAHNEWScom di Meuligoe Bupati Bireuen, Jum’at (13/11/2020) malam.

Menurutnya, program GDAD bertujuan mengubah pola pikir (mindset) masyarakat, dari kebiasaan menanam ganja berubah ke tanaman produktif di area perkebunan. Sehingga, penanaman ganja di pelosok hutan, lambat laun akan terkikis berkat dukungan pemerintah, untuk meningkatkan hasil komoditas potensial di Aceh.

Sosialisasi dan kampanye bahaya narkoba harus senantiasa digaungkan. Dari sisi fisik dan kesehatan, penyalahgunaan narkoba bisa berakibat fatal. Penyalahgunaan narkoba menyebabkan keseimbangan elektrolit dalam tubuh berkurang. Kekurangan cairan dalam tubuh akan menimbulkan kejang-kejang, muncul halusinasi, perilaku lebih agresif, serta sesak pada dada. Dalam jangka panjang, penggunaan narkoba dapat menyebabkan kerusakan otak.

Selain itu, penggunaan narkoba bisa menyebabkan muntah, mual, rasa takut berlebihan, serta gangguan kecemasan. Pemakaian dalam waktu lama mengakibatkan kecemasan, gangguan mental, hingga depresi. Tak hanya itu, pengguna narkoba akan menurunkan tingkat kesadaran, kesulitan mengenal lingkungan, hingga kematian.

Kecanduan terhadap narkoba juga membuat korban menggunakan berbagai macam cara untuk mendapatkan uang untuk membeli barang haram tersebut. Hubungan di dalam keluarga maupun masyarakat ikut terganggu dan tak jarang berakhir di balik jeruji besi akibat pelanggaran hukum.

Dia menyebutkan, berkat dukungan dari berbagai pihak, disertai kerja keras dan semangat para petani, program ini telah memperlihatkan hasil menggembirakan, ditandai dengan berkurangnya produksi ganja selama beberapa tahun ini. Dia berharap, melalui program GDAD yang diprakarsai oleh BNN, masyarakat dapat beralih dari sebelumnya menanam ganja yang ilegal, ke tanaman legal yang juga memiliki nilai ekonomi tinggi.

Temu ramah bersama Kepala BNN Propinsi Aceh, Brigjen Pol Drs Heru Pranoto M.Si di Meuligoe Bupati Bireuen, Jum’at (1311) malam.

“Program ini akan terus berlanjut, untuk memutus mata rantai produktifitas ganja di Aceh. Masyarakat tetap didorong, agar bercocok tanam secara legal, sehingga tidak lagi mudah dipengaruhi oleh para bandar narkotika, maupun jaringannya yang memanfaatkan petani,” ungkapnya.

Heru Pranoto menambahkan, program ini terbukti sangat baik dan efektif, untuk memberantas penanaman ganja, serta meningkatkan ekonomi masyarakat pada beberapa kabupaten di Aceh. Bahkan, tahun ini di Kabupaten Bireuen tercatat sebanyak 12 ribu ha area perkebunan, ditanami jagung melalui program GDAD yang sudah dilakukan panen raya Februari lalu.

“Meski saat ini belum seratus persen penanaman ganja di Aceh hilang, tapi penurunannya cukup drastis, setelah lahan-lahan semakin banyak ditanami komoditas perkebunan yang potensial dan memiliki nilai ekonomi tinggi,” jelas Heru Pranoto.

Bupati Bireuen, Dr H Muzakkar A Gani SH M.Si menambahkan, pemerintah daerah memiliki komitmen kuat untuk terus melaksanakan program ini. Menurutnya, pasca panen raya selama beberapa tahun terakhir, terlihat begitu besar dampak dari program GDAD yang nyata memberi keuntungan bagi masyarakat.

Pihaknya akan terus bekerjasama dengan BNN, untuk mengimplementasi program ini secara berkesinambungan. Disebutkannya, jika tahun 2020 tercatat 12 ribu hektar lahan dimanfaatkan untuk area penanaman komoditas jagung. Maka, tahun 2021 Pemkab Bireuen telah merancang 20 ribu hektar lahan yang jadi target program tersebut.

“Program ini terbukti telah mendongkrak kesejahteraan masyarakat, jika sebelum ada GDAD angka kemiskinan 14,8 % tapi setelah program itu berjalan, angka kemiskinan menurun hingga 12,7 %. Jadi statistik ini sangat jelas, berkat aktifitas masyarakat yang ramai-ramai menanam jagung.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *