Jurnalis: Zubir
BIREUEN, BEDAHNEWS.com — Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Bireuen, Edi Saputra, S.H., M.M., menyerahkan santunan kepada puluhan anak yatim dan fakir miskin dalam rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di Kemesjidan Samuti Makmur, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen, Selasa (25/8/2026).
Kegiatan tersebut berlangsung khidmat dan penuh kehangatan. Pemberian santunan menjadi bagian dari rangkaian peringatan Maulid yang digelar masyarakat bersama pengurus Kemesjidan Samuti Makmur sebagai momentum mempererat silaturahmi sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.
Edi Saputra yang akrab disapa Edi Obama mengatakan, kegiatan berbagi tersebut merupakan wujud rasa syukur sekaligus kepedulian sosial. Menurutnya, semangat berbagi kepada anak yatim dan masyarakat kurang mampu merupakan salah satu bentuk upaya meneladani akhlak mulia Rasulullah SAW.
“Peringatan Maulid Nabi bukan hanya momen seremonial, tetapi menjadi pengingat bagi kita semua untuk meneladani akhlak Rasulullah SAW, khususnya dalam mempererat tali silaturahmi serta berbagi kebahagiaan dengan anak-anak yatim dan saudara kita yang fakir miskin,” ujar Edi Obama.
Penyerahan santunan berlangsung dalam suasana penuh keakraban. Kehadiran Ketua PMI Bireuen tersebut mendapat sambutan hangat dari panitia Maulid, pengurus masjid, tokoh agama, serta masyarakat Kemesjidan Samuti Makmur.
Selain penyerahan santunan, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW juga diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan, seperti doa bersama, lantunan zikir, serta kenduri Maulid yang diikuti masyarakat setempat.
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi sarana memperkuat ukhuwah dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.
Melalui kegiatan berbagi tersebut, Edi Obama berharap semangat kepedulian terhadap anak yatim dan masyarakat kurang mampu dapat terus dipelihara serta menjadi bagian dari budaya gotong royong masyarakat Bireuen.
Semangat berbagi dan saling membantu diharapkan tidak berhenti pada momentum Maulid, tetapi terus tumbuh dalam kehidupan sehari-hari sebagai wujud kepedulian terhadap sesama.











