Jurnalis: Zubir
BIREUEN, BEDAHNEWS.com – Pemerintah Kabupaten Bireuen bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Anggota Komisi V DPR RI H. Ruslan M. Daud (HRD) memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Tanggap Bencana dan Sekolah Lapang.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Sekdakab Lama Bireuen, Rabu (7/10/2026), tersebut mencakup Sekolah Lapang Cuaca Nelayan, Sekolah Lapang Iklim bagi Petani, serta Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami.
Sebanyak 202 peserta ambil bagian dalam kegiatan ini. Mereka terdiri atas 102 peserta Sekolah Lapang Cuaca Nelayan, 50 peserta Sekolah Lapang Iklim bagi Petani, serta 50 peserta Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami.
Wakil Bupati Bireuen, H. Razuardi, MT, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, peningkatan pengetahuan dan kapasitas masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun kesiapsiagaan menghadapi berbagai potensi bencana.
“Pemerintah Kabupaten Bireuen menyambut baik pelaksanaan Bimtek ini. Pengetahuan kebencanaan sangat penting karena bencana tidak bisa diprediksi secara sederhana dan dapat terjadi kapan saja,” ujar Razuardi.
Ia menekankan bahwa kesiapsiagaan bencana tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Menurutnya, informasi cuaca, iklim, serta peringatan dini yang disampaikan BMKG perlu dipahami dan diterjemahkan menjadi langkah nyata, baik sebelum, saat, maupun setelah bencana terjadi.
Sementara itu, Kepala BMKG RI, Prof. Ir. Teuku Faisal Fathani, Ph.D., menjelaskan, pelaksanaan sekolah lapang merupakan bagian dari upaya percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
Melalui kegiatan tersebut, peserta dibekali pemahaman mengenai informasi cuaca harian, kondisi iklim, serta potensi gempa bumi dan tsunami.
“Para peserta diharapkan memahami informasi cuaca harian, kondisi iklim, serta potensi gempa dan tsunami. Kemudian mampu membangun kesiapsiagaan serta melakukan tindakan nyata untuk keselamatan pelayaran nelayan, produktivitas petani, dan mitigasi gempa tsunami di Bireuen,” jelasnya.
Terkait kondisi cuaca, Faisal menyebut wilayah Bireuen secara umum diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada awal November, dengan puncak musim hujan diprediksi terjadi pada Desember.
Meski demikian, dinamika atmosfer yang berkembang saat ini telah memicu potensi hujan lokal di sejumlah wilayah. Karena itu, masyarakat diminta tetap memperhatikan informasi dan peringatan dini yang dikeluarkan BMKG.
Faisal menambahkan, sekolah lapang serupa digelar di lebih dari 120 titik di Indonesia. Bireuen menjadi salah satu lokasi yang mendapat perhatian dalam program tersebut, mengingat pentingnya penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi risiko bencana.
Ia berharap 202 peserta yang mengikuti kegiatan dapat menjadi agen penyebarluasan informasi kebencanaan kepada keluarga dan masyarakat di lingkungan masing-masing.
“Harapannya, ilmu yang diperoleh dari kegiatan ini dapat disebarluaskan kepada keluarga dan masyarakat sekitar, sehingga Bireuen menjadi kabupaten yang semakin tangguh menghadapi bencana,” katanya.
Rangkaian kegiatan diisi dengan pemaparan materi meteorologi, klimatologi, dan geofisika, diskusi panel, sesi tanya jawab, post-test, pengisian kuesioner, hingga simulasi gempa bumi atau Earthquake Drill.
Melalui kegiatan ini, Pemkab Bireuen berharap literasi kebencanaan masyarakat, khususnya nelayan, petani, dan masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana, semakin meningkat sehingga mampu mengambil langkah yang tepat berdasarkan informasi dan peringatan dini.












