Semarak HUT ke-27 Bireuen, Festival Meurukon 2026 Libatkan 17 Kecamatan

  • Whatsapp

Jurnalis: Zubir

BIREUEN, BEDAHNEWS.com – Semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Bireuen diwarnai Festival Meurukon 2026 yang digelar Dewan Kesenian Aceh (DKA) Bireuen di halaman Pendopo Bupati Bireuen.

Muat Lebih

Festival yang mengangkat seni tutur tradisional Aceh ini berlangsung selama tiga hari, 5–7 Oktober 2026, dengan melibatkan kontingen dari 17 kecamatan se-Kabupaten Bireuen.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya melestarikan tradisi Meurukon sekaligus memperkuat eksistensinya di tengah generasi muda. Festival ini juga digelar berkolaborasi dengan Majelis Adat Aceh (MAA) dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bireuen.

Ketua Panitia Pelaksana sekaligus Kepala Sekretariat MAA Bireuen, Azmi, S.Kom., M.M., mengatakan pada malam perdana terdapat empat kecamatan yang tampil, yakni Gandapura, Samalanga, Peusangan Siblah Krueng, dan Juli.

“Untuk malam perdana, ada empat peserta yang tampil menunjukkan kemampuannya, diawali dari Kecamatan Gandapura, Samalanga, Peusangan Siblah Krueng, dan ditutup oleh penampilan dari Kecamatan Juli,” ujar Azmi, Senin (5/10/2026) malam.

Menurutnya, Festival Meurukon tahun ini memiliki arti penting karena tradisi tersebut telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia.

Status tersebut, kata Azmi, bukan sekadar bentuk pengakuan terhadap warisan budaya Bireuen, tetapi juga menjadi amanah untuk memastikan tradisi Meurukon tetap hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Predikat WBTb bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan sebuah tanggung jawab moral dan amanah besar. Status ini menuntut seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah, ulama, budayawan hingga generasi muda, untuk terus merawat dan menghidupkan kembali roh tradisi Meurukon melalui aksi konkret,” tegasnya.

Ia menambahkan, Festival Meurukon 2026 menjadi salah satu langkah konkret untuk menjaga seni bertutur tersebut agar tidak sekadar menjadi catatan sejarah, tetapi tetap menjadi bagian dari kehidupan budaya masyarakat Bireuen.

Untuk menjaga kualitas penampilan, panitia menghadirkan tiga juri yang terdiri dari budayawan dan maestro seni Aceh, yakni Syech Medya Hus dari Aceh Besar, Tgk Khalilullah sebagai praktisi sekaligus maestro Bireuen, serta Syech Mulyadi, seniman dan maestro asal Bireuen.

Sementara itu, Tgk Khalilullah menjelaskan setiap grup peserta diberikan waktu tampil selama 15 menit. Peserta yang melebihi batas waktu tersebut tidak akan mendapatkan penilaian dari dewan juri.

“Setiap grup terdiri dari minimal 10 orang dan maksimal 13 orang, serta didampingi dua orang official,” jelasnya.

Adapun aspek utama yang menjadi penilaian meliputi salam, khutbah nadham, serta kesesuaian penampilan dengan tema “Bireuen Kota Santri, Kota Juang Pusaka Bangsa.” Sementara ketentuan busana disesuaikan dengan kesepakatan bersama.

Festival Meurukon 2026 diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari kemeriahan HUT ke-27 Kabupaten Bireuen, tetapi juga menjadi ruang regenerasi sekaligus penguatan identitas budaya lokal agar seni tutur Meurukon tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *