Jurnalis: Zubir
BIREUEN, BEDAHNEWS.com – Pemerintah Kabupaten Bireuen memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi bencana dengan melatih 42 pemuda gampong melalui Pelatihan Pencegahan dan Mitigasi Bencana Tahun 2026, Selasa (29/9/2026).
Kegiatan tersebut dibuka Asisten II Setdakab Bireuen, Mawardi, S.STP., M.Si., mewakili Sekretaris Daerah Kabupaten Bireuen, Ismunandar, S.T., M.T. Pelatihan diikuti perwakilan pemuda gampong dari berbagai wilayah di Kabupaten Bireuen.
Pelatihan ini diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta kapasitas masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana, baik bencana alam maupun nonalam.
Dalam pidato tertulis Sekda Bireuen yang dibacakan Mawardi, disebutkan bahwa Bireuen memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap berbagai jenis bencana. Ancaman tersebut antara lain banjir, tanah longsor, angin kencang atau puting beliung, abrasi pantai, pergerakan tanah atau likuifaksi, gempa bumi, hingga kebakaran.
“Beberapa ancaman bencana yang kerap terjadi di Bireuen antara lain banjir, tanah longsor, angin kencang atau puting beliung, abrasi pantai, pergerakan tanah atau likuifaksi, hingga gempa bumi. Selain itu, potensi kejadian kebakaran juga masih sangat tinggi,” ujar Mawardi.
Tingginya potensi tersebut tercermin dari data kejadian kebakaran. Sepanjang 2025 tercatat 224 kejadian kebakaran di Kabupaten Bireuen. Sementara hingga 29 September 2026, BPBD Bireuen mencatat 113 kejadian kebakaran dan aksi penyelamatan.
Sebagai bagian dari upaya pengurangan risiko bencana, Pemkab Bireuen telah menerbitkan Peraturan Bupati Bireuen Nomor 34 Tahun 2024 tentang Kajian Risiko Bencana Kabupaten Bireuen Tahun 2024–2028.
Pemkab Bireuen juga telah merampungkan dokumen Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) Kabupaten Bireuen Tahun 2025–2029 yang selanjutnya akan ditetapkan melalui Peraturan Bupati.
Mawardi mengatakan, pelatihan tersebut merupakan bagian dari pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Sub Urusan Bencana sebagaimana diamanatkan Permendagri Nomor 101 Tahun 2018.
“Penanggulangan bencana adalah tanggung jawab bersama hingga tingkat gampong dan sektor swasta,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Bireuen, Ir. Marwan, S.T., M.T., mengatakan pelatihan dilaksanakan melalui dua tahapan, yakni penyampaian materi dan simulasi praktik lapangan.
Materi diberikan secara panel oleh lima narasumber dari unsur pemerintah daerah, BMKG, Dinas Kesehatan, BPBD, dan Basarnas.
Mawardi menyampaikan materi tentang peran pemerintah daerah dalam pencegahan dan mitigasi bencana. Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Kelas II Aceh Besar, Muhajir, S.Si., M.Si., membahas pemahaman informasi iklim untuk adaptasi dan mitigasi bencana hidrometeorologi.
Sementara Epidemiolog Kesehatan Ahli Madya Dinkes Bireuen, Ramli, SKM., M.K.M., menyampaikan materi pencegahan dan mitigasi bencana bidang kesehatan. Sekretaris BPBD Bireuen, Fauzan, S.Pd., M.M., membahas pengurangan risiko bencana gempa bumi, sedangkan Pranata Pencarian dan Pertolongan Pos SAR Bireuen, Indra Budiman, memberikan pemahaman mengenai tugas dan fungsi Basarnas.
“Usai sesi materi dan ishoma, kegiatan dilanjutkan dengan simulasi penanggulangan bencana alam yang dipandu langsung oleh Tim Simulator TRC/Pusdalops serta Tim Pemadam Kebakaran BPBD Kabupaten Bireuen,” jelas Marwan.
Melalui pelatihan tersebut, para pemuda gampong diharapkan tidak hanya memahami langkah mitigasi dan evakuasi, tetapi juga mampu menjadi penggerak edukasi kebencanaan di lingkungan masing-masing.
Keterlibatan pemuda di tingkat gampong dinilai penting untuk membangun kesiapsiagaan masyarakat sejak dini, sehingga warga memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mengurangi risiko serta merespons secara cepat ketika bencana terjadi.











