Jurnalis: Zubir
ACEH UTARA, BEDAHNEWS.com – Menghadapi tuntutan pembelajaran di era digital, guru dituntut tidak hanya mampu memanfaatkan teknologi, tetapi juga memahami bagaimana peserta didik menerima, mengolah, dan menyimpan informasi.
Hal tersebut menjadi fokus Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Malikussaleh (Unimal) melalui pelatihan bertajuk “Peningkatan Kapasitas Guru IPA melalui Pelatihan dan Pendampingan Media Visual dan LKPD Digital Berbasis Neurosains” di SMP Negeri 7 Sawang, Kabupaten Aceh Utara.
Kegiatan yang berlangsung pada 28–30 September 2026 tersebut dipimpin dosen Unimal, Desy Sary Ayunda, M.Pd., dengan memberikan pelatihan dan pendampingan kepada guru IPA dalam memadukan teknologi digital dengan prinsip dasar neurosains untuk menghasilkan bahan ajar yang lebih efektif.
Ketua Tim PkM Unimal, Desy Sary Ayunda, mengatakan tampilan media pembelajaran yang menarik secara visual tidak otomatis membuat proses belajar menjadi efektif. Menurutnya, kepadatan informasi justru dapat menyulitkan peserta didik dalam memahami materi.
“Otak memiliki keterbatasan dalam menerima banyak informasi pada satu waktu. Media tidak harus dipenuhi teks, gambar, dan warna sekaligus. Yang paling penting adalah bagaimana informasi utama dapat ditangkap dan dipahami peserta didik dengan baik,” kata Desy kepada Bedahnews.com, Rabu (7/10/2026).
Ia menjelaskan, prinsip kerja otak perlu diterjemahkan ke dalam strategi pembelajaran yang sederhana dan terstruktur. Materi perlu disajikan secara bertahap, sementara elemen visual digunakan untuk memperjelas konsep dan mengurangi informasi yang tidak relevan.
Pendekatan tersebut dinilai sangat relevan dalam pembelajaran IPA yang banyak memuat konsep struktur, proses, serta berbagai fenomena alam. Penggunaan gambar, diagram, dan warna, kata Desy, harus memiliki fungsi pedagogis untuk membantu siswa memahami hubungan antarkonsep, bukan sekadar menjadi pemanis bahan ajar.
Selain media visual, pelatihan juga berfokus pada pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) digital. Guru diarahkan untuk mengembangkan LKPD yang tidak hanya berisi kumpulan soal, tetapi menjadi bagian dari pengalaman belajar yang mendorong siswa mengamati, membandingkan, menganalisis, hingga menarik kesimpulan.
“Teknologi tetaplah alat, gurulah yang menentukan penggunaannya. Media sederhana yang membuat siswa paham jauh lebih bermakna daripada media canggih yang justru menyulitkan mereka,” tegas Desy.
Melalui kegiatan tersebut, guru SMPN 7 Sawang diharapkan tidak sekadar menguasai penggunaan berbagai aplikasi digital, tetapi juga mampu menentukan media berdasarkan kebutuhan belajar dan cara peserta didik memproses informasi.
“Tujuannya bukan membuat media sebanyak mungkin, melainkan menciptakan pengalaman belajar yang membantu peserta didik lebih mudah memahami, menghubungkan, dan mengingat apa yang dipelajarinya,” pungkas Desy.












