Jurnalis: Zubir
BIREUEN, BEDAHNEWS.com – Pembangunan tanggul dan bronjong pengaman tebing Sungai Krueng Simpo di Dusun Keude, Gampong Krueng Simpo, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, kini telah mencapai sekitar 90 persen.
Pembangunan tersebut menjadi bagian dari upaya penanganan pascabanjir sekaligus mengantisipasi ancaman erosi dan longsor susulan yang dapat membahayakan permukiman warga serta akses jalan di sekitar bantaran sungai.
Pelaksana proyek dari PT Raya Anggun Permai Lhokseumawe, Ismuha (58), didampingi Keuchik Gampong Krueng Simpo, Mursal, menyampaikan perkembangan pembangunan tersebut kepada Bedahnews.com, Kamis (1/10/2026) pagi.
Ismuha menjelaskan, pengerjaan tanggul dimulai sejak 25 Juli 2026 dengan sumber pendanaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) sebesar Rp9,1 miliar.
“Tanggul di tepi Sungai Krueng Simpo yang sedang kami bangun ini memiliki panjang 400 meter dengan lebar 5 meter. Sementara susunan bronjong mencapai 9 hingga 11 tingkat,” ujar Ismuha.
Menurutnya, kebutuhan penanganan erosi di kawasan tersebut sebenarnya mencapai sekitar 1,5 kilometer. Namun, melalui pekerjaan tahap ini, penanganan baru mencakup 400 meter.
Kondisi serupa juga terjadi di bagian timur sungai, tepatnya di wilayah Gampong Ranto Panyang. Erosi yang terus mengikis tebing sungai dikhawatirkan semakin mengancam badan jalan utama gampong.
“Masyarakat sangat berharap adanya penambahan pembangunan tanggul sepanjang 500 meter lagi di titik lain. Pasalnya, tebing sungai terus mengalami longsor hingga mengancam badan jalan utama gampong yang kini kondisinya nyaris putus,” jelasnya.
Sementara itu, Keuchik Gampong Krueng Simpo, Mursal, mengatakan banjir yang melanda kawasan tersebut sebelumnya menyebabkan tebing sungai mengalami kerusakan dan pengikisan cukup parah.
Kondisi tersebut, kata dia, menimbulkan kekhawatiran bagi sedikitnya 25 unit rumah warga yang berada di sekitar bantaran sungai.
Mursal mengapresiasi langkah Pemerintah Aceh yang telah mengalokasikan anggaran untuk penanganan darurat di kawasan tersebut. Namun, ia berharap pembangunan tanggul dapat dilanjutkan agar seluruh titik rawan erosi bisa ditangani.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Aceh. Kami sangat berharap pengerjaan ini bisa dilanjutkan sekitar satu kilometer lagi,” ungkap Mursal.
Ia menilai keberadaan tanggul sangat penting untuk melindungi permukiman warga dan sejumlah fasilitas umum, termasuk Masjid Al-Fajar serta Meunasah Dusun Kamar Mandi.
Selain itu, erosi di kawasan tersebut juga berpotensi mengganggu akses jalan nasional lintas Bireuen–Takengon yang berada tidak jauh dari lokasi.
Warga berharap penanganan tidak berhenti pada pembangunan tanggul sepanjang 400 meter, tetapi dilanjutkan secara bertahap pada titik-titik lain yang masih rawan erosi. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah kerusakan yang lebih luas sekaligus memberikan rasa aman bagi masyarakat yang tinggal di sepanjang bantaran Krueng Simpo.











