Bupati Pidie Jaya Tak Berdiam di Kantor, Nyak Syi Hadir di Tengah Lumpur Bersama Warga

  • Whatsapp

Jurnalis: Zubir

PIDIE JAYA, BEDAHNEWS.com – Sejak banjir bandang dan tanah longsor melanda Kabupaten Pidie Jaya pada 25 November 2025 lalu, sosok Bupati H. Sibral Malasyi, yang akrab disapa Nyak Syi, nyaris tak pernah terlihat berlama-lama di balik meja kantornya.

Muat Lebih

Alih-alih duduk di ruang berpendingin udara, Nyak Syi lebih sering ditemukan di tengah kepungan lumpur, menyusuri lorong-lorong gampong yang masih tertimbun sisa material banjir dan longsor. Kehadirannya di lokasi bencana bukan sekadar simbolis, melainkan untuk memastikan setiap warga terdampak merasakan kehadiran dan perhatian pemerintah daerah.

Pidie Jaya memang bukan daerah dengan kapasitas anggaran yang besar. Namun bagi Nyak Syi, keterbatasan fiskal bukan alasan untuk bergerak lambat. Ia memilih memimpin langsung proses pemulihan pascabencana, mulai dari penyaluran bantuan logistik hingga penataan kembali lingkungan permukiman warga.

“Warga masih berada di pengungsian, rumah-rumah masih dipenuhi lumpur. Tidak ada alasan bagi saya untuk berdiam diri,” tegasnya saat meninjau salah satu titik terdampak, Rabu (4/2/2026).

Saat ini, fokus utama Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya adalah memastikan bantuan kebutuhan dasar tersalurkan secara merata serta menghidupkan kembali aktivitas ekonomi masyarakat yang sempat lumpuh total akibat bencana.

Menyadari keterbatasan sumber daya daerah, Nyak Syi aktif menggalang dukungan dari pemerintah pusat. Setiap kali pejabat kementerian atau lembaga terkait berkunjung, ia mengajak mereka turun langsung ke lapangan—melihat kondisi riil, mencium bau lumpur, dan menyaksikan sendiri luka yang ditinggalkan bencana, bukan sekadar menerima laporan di atas kertas.

Pendekatan yang kerap disebut sebagai “diplomasi lapangan” ini dijalaninya tanpa banyak keluh, meski diiringi tekanan dan kritik dari berbagai pihak. Bagi Nyak Syi, hasil nyata bagi masyarakat jauh lebih penting daripada membangun citra pribadi.

Di lokasi bencana, kedekatan emosional antara bupati dan warga kerap terlihat. Anak-anak korban banjir tak sungkan mendekat, menggenggam tangan Nyak Syi, bahkan menarik bajunya untuk menunjukkan sekolah yang rusak atau rumah mereka yang hancur.

Kehadiran yang konsisten membuatnya menjadi tempat warga menyampaikan keluh kesah. Namun di balik itu, beban kerja yang padat—siang di bawah terik matahari dan malam di ruang rapat—perlahan menggerogoti kondisi fisiknya. Dalam beberapa kesempatan, Nyak Syi bahkan harus mendapatkan perawatan medis berupa infus di sela-sela aktivitasnya agar tetap dapat memantau proses pemulihan.

Hingga kini, tahapan pemulihan di Pidie Jaya masih terus berjalan. Di tengah infrastruktur yang rusak dan rumah warga yang runtuh, H. Sibral Malasyi memilih jalan yang paling sederhana namun paling berat bagi seorang pemimpin: tetap berdiri di samping rakyatnya hingga lumpur terakhir dibersihkan.

Langkah ini menjadi penegasan bahwa kepemimpinan sejati tidak diuji saat kondisi nyaman, melainkan saat seorang pemimpin hadir dan bekerja bersama rakyatnya di tengah badai dan sisa-sisa bencana.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *