Jurnalis: Zubir
BIREUEN, BEDAHNEWS.com – Aktivitas belajar-mengajar di sejumlah sekolah menengah di Kabupaten Bireuen, Aceh, tetap berlangsung pascabanjir besar yang melanda akhir November lalu. Namun, keterbatasan fasilitas memaksa sebagian siswa mengikuti pelajaran dengan duduk di lantai akibat rusaknya meja dan kursi (mobiler).
Kepala Cabang Dinas (Kacabdin) Pendidikan Wilayah IV Bireuen, Abdul Hamid, mengatakan bahwa meskipun perbaikan fisik bangunan sekolah mulai tertangani, ketersediaan mobiler hingga kini masih menjadi kendala utama.
“Mobiler seperti meja dan kursi siswa yang rusak hingga saat ini belum dapat dipenuhi kembali,” ujar Abdul Hamid, Selasa, 31 Maret 2026.
Banjir yang melanda wilayah tersebut berdampak signifikan terhadap puluhan sekolah. Dari jumlah tersebut, tujuh sekolah tercatat mengalami kerusakan paling parah, yakni SMAN 1 Peusangan, SMAN 2 Peusangan, SMKN 1 Peusangan, SMAS Al Furqan, SMAN 1 Peusangan Siblah Krueng, SMAN 2 Kutablang Bireuen, dan SMAN 1 Peulimbang.
Kondisi ini menimbulkan keprihatinan, karena siswa harus belajar dalam kondisi serba terbatas di ruang kelas tanpa furnitur yang memadai.
Sebagai langkah darurat, Cabang Dinas Pendidikan Bireuen melakukan upaya jemput bola dengan meminta bantuan mobiler dari sekolah-sekolah yang tidak terdampak banjir atau memiliki kelebihan fasilitas.
“Kami telah mendatangi sejumlah SMA dan SMK di Bireuen yang memiliki mobiler cukup untuk meminta dukungan bagi sekolah terdampak. Beberapa sekolah merespons positif dan segera berkoordinasi untuk pengiriman bantuan,” jelasnya.
Langkah tersebut dilakukan sebagai solusi sementara sambil menunggu pengadaan resmi dari pemerintah.
Selain kerusakan mobiler, sejumlah peralatan teknologi seperti komputer dan laptop yang digunakan untuk kegiatan praktikum juga dilaporkan rusak total akibat terendam banjir. Pihak Cabang Dinas Pendidikan telah menyampaikan laporan ke pemerintah provinsi dan pusat terkait kebutuhan tersebut.
“Peralatan pendukung seperti komputer dan laptop sudah kami laporkan. Saat ini kementerian terkait sedang memproses pengadaan bantuan,” tambah Abdul Hamid.
Kekhawatiran juga muncul menjelang pelaksanaan Ujian Akhir Semester (UAS) yang dijadwalkan pada 13 April mendatang. Untuk mengantisipasi keterbatasan sarana, pelaksanaan ujian akan dilakukan secara fleksibel.
Sekolah diberikan kewenangan untuk menentukan metode ujian, baik secara manual menggunakan kertas maupun secara daring dengan memanfaatkan ponsel pintar, sesuai kondisi masing-masing.
Pihak sekolah berharap bantuan fasilitas dapat segera terealisasi sebelum tahun ajaran baru dimulai, agar kualitas proses belajar mengajar di wilayah terdampak tidak terus menurun akibat keterbatasan sarana.








