Pengungsi Bireuen Sahur di Bawah Terpal, Huntap Tak Kunjung Terwujud

  • Whatsapp

Jurnalis: Zubir

BIREUEN, BEDAHNEWS.com – Ratusan warga korban banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Bireuen terpaksa menjalani ibadah puasa Ramadan dalam kondisi serba keterbatasan. Hingga Kamis (19/2/2026), para pengungsi masih bertahan di tenda-tenda darurat karena pembangunan Hunian Tetap (Huntap) yang dijanjikan Pemerintah Kabupaten Bireuen belum juga terealisasi.

Muat Lebih

Tanpa Hunian Sementara (Huntara), kehidupan pengungsi kian memprihatinkan. Mayoritas pengungsi yang terdiri dari perempuan, anak-anak, dan lanjut usia harus bertahan di bawah terpal plastik yang jauh dari kata layak. Saat hujan turun, air merembes masuk hingga membasahi alas tidur. Sebaliknya, ketika cuaca panas, suhu di dalam tenda terasa sangat menyengat.

Kekecewaan warga paling terasa di Desa Balee Panah, Kecamatan Juli. Di lokasi ini, Pemkab Bireuen baru membangun tiga unit rumah contoh Huntap. Namun hingga kini, bangunan tersebut belum dapat dihuni karena tidak dilengkapi akses air bersih serta belum tersambung jaringan listrik.

“Tiga unit itu seperti hanya rumah contoh. Sampai sekarang belum ada pembangunan lanjutan. Padahal kami dijanjikan 1.000 unit Huntap untuk tahap pertama,” ujar salah seorang warga kepada wartawan.

Warga menilai kebijakan pemerintah daerah tidak tepat sasaran. Menurut mereka, pembangunan Huntara seharusnya menjadi prioritas agar pengungsi tidak berlarut-larut hidup di tenda darurat, sembari menunggu proses pembangunan Huntap yang membutuhkan waktu panjang.

Berdasarkan data yang dihimpun, bencana yang terjadi pada 26 November 2025 lalu berdampak pada 28 desa di tujuh kecamatan, yakni Kecamatan Juli—termasuk kawasan terparah di KM 9 lintas Bireuen–Takengon—Kecamatan Jeumpa, Kecamatan Kutablang, Kecamatan Peusangan, Kecamatan Peusangan Selatan, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, dan Kecamatan Jangka.

Di Desa Balee Panah saja, sedikitnya 43 Kepala Keluarga (KK) kehilangan tempat tinggal. Banyak dari mereka bukan hanya kehilangan rumah, tetapi juga lahan tempat bergantung hidup.

“Kami sudah tidak punya apa-apa lagi. Rumah dan tanah kami habis disapu banjir dan longsor akhir tahun lalu,” ungkap seorang pengungsi di Kecamatan Juli dengan suara lirih.

Pantauan di lokasi pengungsian menunjukkan kondisi tenda yang semrawut. Tas berisi pakaian, kardus peralatan dapur, kompor, hingga timba bercampur dengan tempat tidur warga dalam ruang yang sangat terbatas. Jika tidak ada langkah nyata dari pemerintah, kondisi ini diperkirakan akan terus berlangsung hingga lebih dari satu tahun ke depan.

Warga berharap Pemkab Bireuen segera merealisasikan hunian yang layak, terlebih di bulan suci Ramadan.

“Sangat menyedihkan harus sahur dan berbuka puasa dalam kondisi seperti ini. Kami hanya ingin tempat tinggal yang manusiawi. Jangan biarkan kami terlalu lama hidup di bawah terpal,” pungkas seorang pengungsi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *