Jurnalis: Zubir
BIREUEN, BEDAHNEWS.com – Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pertanian memastikan akan turun tangan menangani ribuan hektare lahan persawahan di Kabupaten Bireuen yang rusak akibat banjir bandang pada akhir November 2025 lalu. Intervensi ini dilakukan agar lahan pertanian produktif milik masyarakat dapat segera kembali diolah dan mendukung ketahanan pangan daerah.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Kadistanbun) Kabupaten Bireuen, Mulyadi, menyampaikan bahwa hasil pendataan terbaru menunjukkan tingkat kerusakan lahan pertanian yang cukup signifikan.
“Luas sawah yang mengalami rusak berat mencapai 1.323 hektare, rusak sedang 685,27 hektare, dan rusak ringan sekitar 2.736 hektare,” ujar Mulyadi kepada Bedahnews.com, Rabu (28/1/2026).
Ia menjelaskan, berdasarkan hasil koordinasi terakhir dengan Kementerian Pertanian di Banda Aceh, penanganan tahap awal akan difokuskan pada sawah kategori rusak sedang dan rusak ringan. Kabupaten Bireuen sendiri menjadi salah satu dari lima kabupaten/kota di Aceh yang mendapat prioritas bantuan rehabilitasi lahan pertanian.
Adapun lahan yang akan segera ditangani meliputi sekitar 677 hektare sawah rusak sedang dan lebih dari 1.900 hektare sawah rusak ringan.
“Pola pengerjaannya dilakukan secara swadaya oleh masyarakat melalui kelompok tani. Pemerintah Pusat akan menyalurkan anggaran rehabilitasi langsung ke rekening kelompok tani penerima,” jelasnya.
Pemerintah menargetkan proses rehabilitasi, khususnya pembersihan sedimen lumpur dan material tanah sisa banjir, dapat diselesaikan dalam waktu relatif singkat.
“Kami berharap perencanaan di tingkat provinsi dapat segera rampung. Targetnya, rehabilitasi sawah ini selesai pada bulan Ramadan, sehingga pada musim tanam gadu April 2026 masyarakat sudah bisa kembali turun ke sawah,” kata Mulyadi.
Menurutnya, keterlibatan langsung petani dalam proses rehabilitasi juga menjadi bentuk pemberdayaan ekonomi. Selain memperbaiki lahan milik sendiri, petani memperoleh tambahan pendapatan dari kegiatan pengerjaan tersebut.
Meski demikian, Mulyadi mengakui masih terdapat kendala serius pada sektor pengairan. Bendungan irigasi Pante Lhong Peusangan di Gampong Beunyot, Kecamatan Juli, dilaporkan mengalami rusak berat sehingga aliran air ke persawahan terputus.
“Jika perbaikan bendungan dapat diselesaikan tepat waktu, maka distribusi air diharapkan sudah normal pada April mendatang. Sementara untuk sawah kategori rusak berat yang belum masuk dalam skema rehabilitasi saat ini, kami telah mengusulkan bantuan padi gogo atau padi lahan kering ke pemerintah pusat sebagai solusi alternatif,” pungkasnya.








