Jembatan Peusangan Selatan Putus Diterjang Banjir, Warga Bertaruh Nyawa Menyeberangi Sungai

  • Whatsapp

Jurnalis: Zubir

BIREUEN, BEDAHNEWS.com – Warga Kecamatan Peusangan Selatan, Kabupaten Bireuen, mendesak Pemerintah Kabupaten Bireuen dan Pemerintah Aceh agar segera membangun kembali jembatan rangka baja di Gampong Ule Jalan yang putus total akibat banjir bandang.

Muat Lebih

Jembatan vital yang menjadi urat nadi perekonomian dan akses pendidikan warga tersebut ambruk diterjang banjir bandang pada Rabu (26/11/2025) lalu.

Pantauan Bedahnews.com di lokasi pada Kamis (22/1/2026) pagi, hingga kini jembatan belum tersambung kembali. Akibatnya, warga dari sedikitnya enam gampong terpaksa mempertaruhkan keselamatan dengan menggunakan perahu getek sebagai satu-satunya sarana penyeberangan sungai.

Camat Peusangan Selatan, Saifuddin, menjelaskan bahwa jembatan Ule Jalan merupakan akses tunggal bagi warga di wilayah seberang sungai, meliputi Gampong Suwak, Darul Aman, Tanjong Beuridi, Blang Mane, Darussalam, dan Pulo Harapan.

“Sejak jembatan putus, mobilitas warga lumpuh total. Saat ini masyarakat hanya bergantung pada perahu getek di tepi sungai. Kami sangat berharap pemerintah segera mempercepat pembangunan jembatan pengganti agar aktivitas ekonomi dan pendidikan kembali normal,” ujar Saifuddin saat ditemui di lokasi.

Selain jembatan utama Ule Jalan, warga juga mengeluhkan putusnya jembatan gantung di Dusun Pante Pocut yang selama ini menjadi akses menuju lahan perkebunan dan persawahan.

Keuchik Gampong Suwak, Muhammad Wali, menegaskan bahwa kebutuhan infrastruktur di wilayahnya bersifat mendesak dan tidak bisa ditunda lebih lama.

“Kami memohon perhatian serius dari pemerintah. Tidak hanya jembatan utama, tetapi juga jembatan gantung di Pante Pocut harus segera dibangun. Selain itu, pengaman tebing sungai sangat penting agar longsor tidak terus meluas,” tegas Muhammad Wali.

Dampak paling dirasakan akibat terputusnya jembatan ini dialami oleh anak-anak sekolah. Setiap hari, mereka harus menyeberangi sungai menggunakan perahu getek dengan risiko keselamatan yang tinggi.

Ebtadi, salah seorang warga setempat, mengaku terbebani biaya penyeberangan yang harus dikeluarkan setiap hari.

“Anak-anak sekolah terpaksa naik getek setiap hari. Kami berharap ada kebijakan dari pemerintah untuk menggratiskan biaya penyeberangan, setidaknya bagi pelajar, sampai jembatan permanen benar-benar selesai dibangun,” harapnya.

Hingga berita ini diturunkan, warga masih mengandalkan rakit darurat untuk menyeberangi sungai, meskipun rasa cemas terus menghantui, terutama saat debit air meningkat akibat hujan.

Masyarakat berharap pembangunan jembatan pengganti tidak berhenti pada janji dan wacana semata, mengingat akses tersebut sangat krusial bagi pendidikan, aktivitas ekonomi, serta distribusi hasil pertanian dan perkebunan warga di Peusangan Selatan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *