Jurnalis: Zubir
BIREUEN, BEDAHNEWS.com – Ratusan personel pemadam kebakaran dan Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bireuen menggelar aksi demonstrasi di kantor Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Bireuen, Rabu (13/1/2026) pagi.
Aksi tersebut dipicu rasa kecewa dan keberatan para petugas atas penggerebekan gudang logistik BPBD yang dilakukan oleh sejumlah anggota DPRK beberapa waktu lalu. Dalam penggerebekan itu, BPBD dituding menimbun bantuan yang seharusnya disalurkan kepada korban bencana hidrometeorologi.
Pantauan Bedahnews.com, para personel yang mengenakan seragam dinas menyatakan martabat dan profesionalisme mereka telah dilecehkan. Mereka menegaskan bahwa penyaluran bantuan selama ini telah dilakukan sesuai standar operasional prosedur (SOP) melalui koordinasi dengan camat dan keuchik di wilayah terdampak.
Ketua DPRK Bireuen, Juniadi, SH, didampingi anggota Komisi IV Muhammad Amin, langsung menemui massa aksi. Juniadi menegaskan bahwa penggerebekan gudang logistik tersebut bukan merupakan tindakan resmi lembaga DPRK.
“Saya tidak tahu soal itu. Kalau resmi, harus ada surat tugas dari Komisi IV kepada saya, lalu saya menyurati Pj Bupati. Ini tidak ada. Jangan bawa-bawa nama lembaga, itu aksi ilegal dan bukan fungsi DPRK,” tegas Juniadi di hadapan massa.
Ia menjelaskan bahwa tugas DPRK terbatas pada fungsi penganggaran, legislasi, dan pengawasan, bukan melakukan penggerebekan di lapangan. Juniadi juga mengaku sangat menyesalkan kejadian tersebut karena menilai kinerja BPBD Bireuen selama ini sangat maksimal dalam melayani masyarakat.
“Sedih saya melihatnya. Mereka bekerja pagi, siang, sampai malam. Seharusnya diberi apresiasi, bukan justru dicurigai. Saya pastikan Badan Kehormatan Dewan (BKD) akan memproses persoalan ini, karena saya tidak pernah mengeluarkan satu surat izin pun terkait aksi kemarin,” ujarnya.
Salah seorang petugas pemadam, Taufik, meluapkan kekecewaannya. Ia mengatakan para personel telah bekerja selama 40 hari penuh sejak hari pertama bencana, mulai dari evakuasi warga hingga pendistribusian air bersih.
“Kami ini anak-anak Bireuen yang siaga 24 jam. Kami tidak terima dituduh mencuri atau menimbun. Itu gudang logistik, memang tempat penyimpanan barang. Kalau disimpan di rumah pribadi pejabat, silakan digerebek,” cetusnya.
Senada dengan itu, Koordinator Aksi M. Rakjab menjelaskan bahwa saat penggerebekan terjadi, petugas gudang justru sedang melakukan pendataan titik pengungsi untuk penyaluran bantuan sesuai regulasi.
“Logistik harus dimanajemen. Tidak ada yang bisa menjamin besok tidak ada bencana lagi. Bantuan dikeluarkan bertahap berdasarkan permintaan camat yang dilengkapi berita acara dan stempel resmi,” jelas Rakjab.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Bireuen Doli Mardian membantah keras tudingan penimbunan bantuan. Ia menyebut tumpukan logistik di gudang disebabkan baru masuknya bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam jumlah besar.
“Kemarin masuk empat truk, tadi malam tiga truk bantuan dari pusat. Saat ini kami juga sedang menyalurkan 660 ton beras ke kecamatan-kecamatan. Samalanga dan Gandapura hari ini masih dalam proses distribusi,” ungkap Doli.
Ia menambahkan, pihak BPBD sebelumnya juga telah berkoordinasi dengan DPRK terkait penyaluran sisa bantuan mendekati bulan suci Ramadan, sehingga tudingan penimbunan dinilai tidak berdasar.
Hingga berita ini diturunkan, Ketua DPRK Bireuen menyatakan akan segera memanggil oknum anggota dewan yang terlibat dalam penggerebekan tersebut untuk dimintai klarifikasi dalam pertemuan bersama pihak BPBD dan perwakilan massa aksi.








