Jurnalis : Zubir
BIREUEN, BEDAHNEWS.com – Di usia senjanya, Nurjannah (70), warga Gampong Keurumbok, Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen, harus menjalani hari-hari penuh keterbatasan. Rumah semi permanen miliknya hancur total diterjang banjir bandang pada akhir November 2025, memaksanya bertahan hidup di sebuah gubuk kecil yang jauh dari kata layak.
Menjelang masuknya bulan suci Ramadhan 2026, perempuan lanjut usia yang akrab disapa Nek Nurjannah itu hanya menyimpan satu harapan besar, yakni mendapatkan bantuan Rumah Hunian Tetap (Huntap) agar dapat menjalankan ibadah puasa dengan aman dan nyaman.
Pantauan Bedahnews.com di lokasi bersama sejumlah jurnalis, Nek Nurjannah tampak tegar meski kondisi tempat tinggal sementara yang ia huni sangat memprihatinkan. Usai bencana hidrometeorologi yang terjadi pada Rabu (26/11/2025) subuh, ia bersama anaknya Afzal (40), menantu Rina Dewi Yanti (30), serta cucunya Nauren Kamera (5) terpaksa mengungsi di meunasah desa selama sekitar satu bulan.
“Setelah dari meunasah, anak saya membangun gubuk kecil ini di halaman rumah yang sudah hancur. Dua hari lalu, alhamdulillah ada yang membantu tenda dan tempat tidur besi,” ujar Nurjannah kepada Bedahnews.com, Minggu (11/1/2026).
Ia mengenang detik-detik banjir datang dengan cepat usai melaksanakan salat Subuh. Awalnya air hanya setinggi lutut, namun dalam hitungan menit meningkat hingga setinggi pinggang orang dewasa, memaksa dirinya menyelamatkan diri bersama warga lainnya.
“Saya lari bersama warga. Malam harinya baru anak saya bilang rumah kami sudah hancur total,” tuturnya dengan suara lirih.
Tak hanya kehilangan tempat tinggal, seluruh harta benda miliknya juga lenyap tersapu banjir. Bahkan sumber penghidupan keluarga berupa seratusan ekor ayam siam peliharaannya tidak satu pun tersisa.
Kini, gubuk yang ditempati hanya mampu melindungi dari terik matahari. Saat hujan deras turun, Nek Nurjannah terpaksa menumpang ke rumah tetangga karena kondisi bangunan yang rawan dan bocor.
Ia pun berharap adanya perhatian serius dari pemerintah maupun para dermawan untuk membantu membangunkan kembali rumah yang telah hilang.
“Kami sangat berharap rumah ini bisa dibangun lagi. Kami ingin menjalankan ibadah puasa dengan tenang dan nyaman di rumah sendiri,” harapnya penuh lirih.








