Jurnalis: Zubir
BIREUEN, BEDAHNEWS.com – Ratusan anggota Pramuka Kwartir Cabang (Kwarcab) Bireuen dikerahkan untuk membantu membersihkan sisa-sisa lumpur tebal di MIN 43 Bireuen (MIN Cot Ara), Kecamatan Kutablang, Minggu (11/1/2026).
Sekolah tersebut menjadi salah satu lokasi yang mengalami dampak paling parah akibat terjangan banjir bandang beberapa waktu lalu. Selain menyisakan lumpur pekat yang menutupi hampir seluruh area sekolah, sejumlah fasilitas mengalami kerusakan serius, mulai dari pagar hingga pintu gerbang yang roboh dan terlepas dari engselnya.
Pantauan BEDAHNEWS.com di lokasi menunjukkan para anggota Pramuka bekerja secara gotong royong dan terbagi dalam sejumlah kelompok. Sebagian mengeruk lumpur di halaman sekolah, sebagian lainnya membersihkan ruang-ruang kelas, serta mencuci dan menata kembali peralatan belajar yang masih dapat diselamatkan.
Ketua Harian Kwarcab Pramuka Bireuen, M Yusuf SPd, mengatakan bahwa aksi kemanusiaan tersebut juga disertai dengan penyaluran bantuan perlengkapan kebersihan.
“Kami turut mengantarkan bantuan kiriman dari Kwarcab Pramuka Lamongan. Mereka menunjukkan kepedulian yang luar biasa dengan mengirimkan bantuan berupa kereta sorong, sekop, serta berbagai peralatan kebersihan untuk membantu pemulihan sekolah ini,” ujar Yusuf di sela kegiatan.
Selain fokus pada pemulihan fasilitas pendidikan, Yusuf juga menyampaikan bahwa sebanyak 11 anggota Pramuka di Bireuen tercatat sebagai korban terdampak banjir bandang. Saat ini, para anggota tersebut telah mendapatkan perhatian dan pendampingan khusus dari jajaran pengurus Kwarcab.
Sementara itu, Kepala MIN 43 Bireuen, Fajriani SAg MPd, mengungkapkan dahsyatnya banjir bandang yang menerjang sekolahnya. Menurutnya, ketinggian air saat kejadian mencapai sekitar 2,5 meter, menyebabkan hampir seluruh peralatan sekolah mengalami kerusakan.
“Semua peralatan sekolah terdampak. Meski wali murid, masyarakat sekitar, serta jajaran Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) telah membantu sejak awal, ketebalan lumpur yang masuk ke area sekolah membuat proses pembersihan belum bisa maksimal,” jelas Fajriani.
Meski demikian, ia memastikan bahwa sebagian besar ruang kelas kini sudah mulai dapat digunakan kembali untuk kegiatan belajar mengajar.
“Alhamdulillah, proses pembelajaran sudah bisa berjalan kembali. Kankemenag Bireuen juga telah menyalurkan bantuan berupa tas sekolah untuk para siswa kami,” pungkasnya.








