Huntap Korban Banjir Bandang di Juli Bireuen Mulai Dibangun, 385 Rumah Dilaporkan Hilang dan Rusak

  • Whatsapp

Jurnalis: Zubir

BIREUEN, BEDAHNEWS.com – Pemerintah Kabupaten Bireuen mulai menggenjot pembangunan Rumah Hunian Tetap (Huntap) bagi warga korban banjir bandang di Kecamatan Juli. Tahap awal pembangunan ditandai dengan pengerjaan tiga unit rumah perdana di Gampong Bale Panah, menyusul prosesi peletakan batu pertama oleh Bupati Bireuen.

Muat Lebih

Camat Juli, Hendri Maulana, kepada BEDAHNEWS.com, Senin (12/1/2026) pagi, menyampaikan bahwa pihak kecamatan saat ini terus melakukan pendataan serta validasi lahan milik warga terdampak agar pembangunan Huntap dapat dilakukan secara bertahap dan menyeluruh.

“Untuk Kecamatan Juli, data korban sudah kami sampaikan. Total terdapat 385 unit rumah yang dinyatakan hilang atau tidak layak huni. Dari jumlah tersebut, 230 rumah telah memiliki kejelasan alas hak atau surat kepemilikan tanah,” ujar Hendri.

Ia menjelaskan, fokus awal pembangunan saat ini adalah menyelesaikan tiga unit Huntap di Gampong Bale Panah sebagai proyek percontohan, sebelum dilanjutkan ke gampong-gampong lain yang memiliki kondisi dan kendala serupa.

Sementara itu, Keuchik Gampong Bale Panah, Muntazar, menjelaskan bahwa tiga unit Huntap yang sedang dibangun tersebut berdiri di atas lahan milik pribadi para korban banjir.

Ketiga rumah itu milik satu keluarga, yakni Zainal Abidin Sulaiman (70) serta dua anaknya, M Saiful Bahri (37) dan M Anwar Sadad (39).

“Alhamdulillah, pembangunan rumah ini dilakukan di atas tanah milik sendiri. Untuk warga lainnya, sejauh ini sudah 25 orang menyerahkan surat kepemilikan tanah, dan lima warga lainnya juga telah menyusul menyerahkan dokumen kepada pihak gampong,” ungkap Muntazar.

Muntazar turut menggambarkan betapa dahsyatnya dampak banjir bandang yang melanda wilayahnya. Berdasarkan data gampong, tercatat 58 unit rumah hancur dan hilang tersapu banjir, 14 rumah tertimbun longsor, serta 27 unit rumah lainnya dinyatakan rawan dan tidak layak huni.

Ia menegaskan, di Gampong Bale Panah hampir tidak ditemukan kategori rumah rusak ringan, mengingat derasnya arus banjir telah mengubah kawasan permukiman warga menjadi alur sungai baru.

“Di gampong kami tidak ada istilah rusak ringan. Saat banjir bandang datang, rumah-rumah beserta lahannya langsung hilang dan berubah menjadi aliran sungai,” pungkas Muntazar.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *