18 Rumah Hilang Diterjang Banjir Bandang di Kutablang Bireuen, 9 KK Masih Mengungsi di Meunasah

  • Whatsapp

Jurnalis: Zubir

BIREUEN, BEDAHNEWS.com – Sebanyak sembilan kepala keluarga (KK) di Gampong Tingkeum Mayang, Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen, hingga Senin (12/1/2026) pagi masih bertahan di pengungsian meunasah setempat.

Muat Lebih

Mereka merupakan korban terdampak banjir bandang dan tanah longsor yang kehilangan tempat tinggal secara total setelah rumah mereka hanyut tersapu derasnya aliran sungai. Berbeda dengan warga lainnya yang memilih menumpang di rumah kerabat atau menyewa tempat tinggal sementara, sembilan KK ini tidak memiliki alternatif hunian lain.

Keuchik Gampong Tingkeum Mayang, Mawardi, menyampaikan bahwa hingga saat ini terdapat 45 jiwa yang masih menetap di meunasah. Seluruhnya merupakan warga yang rumahnya hilang total akibat bencana.

“Warga yang masih mengungsi di meunasah adalah mereka yang rumahnya hilang sepenuhnya dan tidak mampu menyewa rumah sementara. Kami sangat berharap Pemerintah Kabupaten Bireuen segera membangun rumah bantuan, baik hunian sementara (Huntara) maupun **hunian tetap (Huntap),” ujar Mawardi kepada BEDAHNEWS.com di lokasi bencana.

Ia menambahkan, masyarakat berharap pembangunan hunian tersebut dapat segera terealisasi sebelum memasuki bulan suci Ramadhan, sehingga para korban dapat menjalani ibadah dengan lebih tenang dan layak.

Berdasarkan data gampong, bencana hidrometeorologi tersebut mengakibatkan 18 unit rumah hilang atau hanyut ke sungai, masing-masing 12 unit di Dusun Tgk Chiek dan 6 unit di Dusun Tgk Malem.

Selain itu, tercatat 13 unit rumah rusak berat, terdiri dari 9 unit di Dusun Tgk Chiek, 2 unit di Dusun Tgk Malem, dan 2 unit di Dusun Kota. Sementara itu, 74 unit rumah mengalami rusak ringan, serta 41 unit rumah berada dalam kondisi rawan longsor karena berdekatan dengan bantaran sungai, masing-masing 12 unit di Dusun Tgk Chiek dan 29 unit di Dusun Tgk Malem.

Terkait rencana pembangunan Huntap, Mawardi mengungkapkan adanya kendala ketersediaan lahan. Sebagian warga masih memiliki tanah pribadi, namun sebagian lainnya sama sekali tidak memiliki lahan karena telah terkikis dan berubah menjadi alur sungai.

“Untuk warga yang tidak memiliki tanah lagi, kami sangat mengharapkan bantuan pemerintah dalam penyediaan lahan baru. Sedangkan untuk Huntara, hasil rapat perangkat gampong telah menyepakati penggunaan tanah wakaf gampong sebagai lokasi hunian sementara,” jelasnya.

Duka mendalam dirasakan para korban, salah satunya Zayadi (50), warga Dusun Tgk Chiek. Dengan mata berkaca-kaca, ia menceritakan rumah permanen miliknya beserta rumah anaknya, Fikri Haikal (25), kini telah lenyap tanpa sisa.

“Rumah kami sekarang sudah menjadi aliran sungai. Tidak ada yang tersisa,” tuturnya lirih.

Hal serupa dialami Abakar Jalil (57) dan M Yusuf Matsah (59). Rumah yang selama ini mereka tempati kini telah hilang diterjang luapan Krueng Tingkeum.

Saat ini, kebutuhan logistik para pengungsi di meunasah masih dipenuhi melalui dapur umum, dengan pasokan bantuan dari Pemerintah Kabupaten Bireuen serta para donatur lainnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *