Pascabanjir Bandang, SMAN 1 Peusangan Siblah Krueng Masih Terkubur Lumpur Setinggi Satu Meter, Sekolah Desak Bantuan Alat Berat

  • Whatsapp

Jurnalis : Zubir

BIREUEN, BEDAHNEWS.com – Kondisi SMAN 1 Peusangan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen, pascabanjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025 lalu hingga kini masih memprihatinkan. Hingga Sabtu (10/1/2026), area halaman sekolah masih dipenuhi endapan lumpur tebal dengan ketinggian mencapai satu meter lebih, sehingga menghambat proses pemulihan sekolah.

Muat Lebih

Pihak sekolah menyatakan sangat membutuhkan bantuan tambahan berupa alat berat dan armada pengangkut guna mempercepat pembersihan sisa material banjir agar aktivitas belajar mengajar (KBM) dapat segera kembali berjalan normal.

Hal tersebut disampaikan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMAN 1 Peusangan Siblah Krueng, Iswadi, didampingi Tenaga Administrasi Amri serta Guru Geografi Khairul Rizal, saat ditemui BEDAHNEWS.com di lokasi sekolah yang tengah dibersihkan bersama personel TNI.

Iswadi menjelaskan, banjir bandang yang terjadi pada Rabu (26/11/2025) lalu membawa dampak kerusakan yang sangat besar bagi sekolah yang menampung sekitar 170 siswa dengan 60 tenaga pendidik dan kependidikan tersebut.

“Saat kejadian, ketinggian air mencapai sekitar 2,5 meter dan merendam seluruh fasilitas sekolah. Ruang kelas, ruang guru, ruang kepala sekolah, hingga laboratorium terendam. Akibatnya, mobiler, buku perpustakaan, dokumen rapor, serta peralatan elektronik sekolah rusak dan tidak dapat digunakan,” ungkap Iswadi.

Meski upaya pembersihan telah dilakukan secara maraton oleh para guru, siswa, serta dibantu personel TNI dan alat berat dari Pemerintah Aceh, volume lumpur yang tersisa masih tergolong sangat besar.

Menurut Iswadi, lumpur di dalam ruangan sekolah yang rata-rata setebal sekitar 50 sentimeter kini telah berhasil dibersihkan. Namun, persoalan utama masih berada di area halaman sekolah yang dipenuhi endapan lumpur tebal.

“Lumpur di halaman sekolah masih mencapai satu meter lebih. Kondisi ini tidak memungkinkan dibersihkan secara manual oleh guru dan siswa. Kami sangat membutuhkan bantuan alat berat serta dump truck untuk mengangkut lumpur keluar dari lingkungan sekolah,” tambahnya.

Terkait proses pendidikan, Iswadi menuturkan bahwa pihak sekolah saat ini harus memulai kembali dari kondisi nol. Kerusakan mobiler seperti meja dan kursi, serta hilangnya alat peraga dan perlengkapan pendidikan lainnya, membuat kegiatan belajar mengajar lumpuh total.

“Guru-guru saat ini berupaya mengisi kembali nilai rapor siswa di tengah keterbatasan. Kami sangat berharap adanya perhatian dan bantuan berupa mobiler serta sarana pendukung lainnya agar siswa dapat segera kembali bersekolah dengan layak,” pungkas Iswadi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *