Jurnalis : Zubir
BIREUEN, BEDAHNEWS.com – Pemerintah Kabupaten Bireuen resmi memulai pembangunan Rumah Hunian Tetap (Huntap) bagi warga korban banjir bandang di Desa Balee Panah, Kecamatan Juli. Pembangunan tersebut ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Bupati Bireuen, H. Mukhlis, ST bersama Tenaga Ahli Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI (Purn) Dr. Suharyanto, Rabu (7/1/2026).
Pada tahap awal, pembangunan difokuskan pada tiga unit rumah permanen milik satu keluarga korban, yakni M. Saiful Bahri, Zainal Abidin, dan M. Anwar. Ketiga rumah tersebut hilang tak bersisa setelah diterjang banjir bandang hebat yang melanda kawasan tersebut pada akhir November 2025 lalu.
Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Bireuen, Doli Mardian, menjelaskan bahwa Huntap yang dibangun merupakan rumah permanen tipe 36 plus. Setiap unit rumah menelan anggaran sekitar Rp60 juta yang bersumber dari bantuan pemerintah.
“Selain pembangunan hunian, setiap kepala keluarga juga menerima bantuan tambahan sebesar Rp3 juta untuk pembelian perabot rumah tangga,” ujar Doli saat ditemui di lokasi pembangunan.
Sementara itu, Keuchik Balee Panah, Muntazar, SE, mengungkapkan besarnya dampak banjir bandang yang terjadi pada 26–27 November 2025. Menurutnya, bencana tersebut mengakibatkan 59 unit rumah hanyut, sembilan rumah tertimbun lumpur, serta 25 rumah lainnya berada dalam kondisi terancam longsor.
Tak hanya itu, delapan unit usaha milik warga turut hanyut terbawa arus. Sejumlah fasilitas umum seperti jembatan, gedung PKK, serta Dayah Istiqamatuddin Babul Ilmi mengalami kerusakan parah. Puluhan ekor hewan ternak milik warga juga dilaporkan mati atau hanyut akibat derasnya arus banjir.
Hingga kini, sebanyak 365 kepala keluarga atau sekitar 1.346 jiwa masih mengungsi di empat lokasi, yakni Dusun Kayee Jatoe, Dusun Barona, dan Dusun Alue U. Banyak warga yang rumahnya masih berdiri memilih bertahan di pengungsian karena khawatir akan ancaman longsor susulan.
“Warga masih trauma dan takut kembali ke rumah, terutama yang berada di kawasan rawan longsor,” kata Muntazar.
Pembangunan Huntap ini disambut harapan besar oleh para pengungsi. Masyarakat berharap proses pembangunan dapat dipercepat, mengingat bulan suci Ramadhan kian dekat dan warga mendambakan dapat kembali hidup layak di hunian yang aman.
Berdasarkan data BNPB, dari puluhan warga yang rumahnya rusak berat atau hilang, sebanyak 26 kepala keluarga telah mengantongi izin lokasi pembangunan hunian tetap dan akan segera menyusul dalam tahapan konstruksi berikutnya.








