Jurnalis : Zubir
BIREUEN | BEDAHNEWS.com – Warga Gampong Meunasah Tambo dan Gampong Meunasah Keutapang, Kecamatan Jeunieb, Kabupaten Bireuen, kembali dilanda banjir akibat luapan Krueng Jeunieb pada Senin (5/1/2026) malam. Peristiwa ini memaksa warga kembali meningkatkan kewaspadaan menyusul cuaca yang masih berpotensi hujan.
Banjir kali ini menjadi kejadian keempat sejak November 2025, mempertegas persoalan klasik yang belum tertangani secara tuntas. Curah hujan tinggi di kawasan pegunungan disebut sebagai pemicu utama meningkatnya debit air sungai hingga meluap ke permukiman.
Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Ranting Jeunieb, Irwandi, membenarkan bahwa air mulai menggenangi rumah warga pada Senin malam. Berdasarkan pemantauannya, luapan air bermula dari saluran irigasi di Gampong Blang Poroh, sebelum kemudian meluas ke wilayah hilir.
“Diduga hujan deras terjadi di daerah pegunungan. Tidak lama kemudian debit air sungai meningkat dan meluap hingga merendam Gampong Meunasah Tambo dan Meunasah Keutapang. Ini sudah kejadian keempat sejak November 2025,” ujar Irwandi kepada Bedahnews.com.
Irwandi menilai, pendangkalan alur Krueng Jeunieb akibat sedimentasi pascabanjir berulang menjadi faktor utama air mudah meluap. Ia pun mendesak Pemerintah Kabupaten Bireuen untuk segera mengambil langkah konkret guna mencegah banjir susulan.
“Kondisi sungai saat ini sudah sangat dangkal. Kami berharap Pemkab Bireuen segera melakukan normalisasi aliran Krueng Jeunieb sebagai langkah pencegahan,” tegasnya.
Keluhan serupa disampaikan Hamdani (66), warga Gampong Meunasah Tambo. Ia mengaku banjir telah menjadi langganan setiap kali hujan deras mengguyur wilayah hulu.
“Setiap hujan deras, gampong kami pasti kebanjiran. Kami meminta Pemkab menormalisasi sepanjang aliran Krueng Jeunieb dan sekaligus melakukan peninggian tanggul,” ungkap Hamdani di lokasi banjir.
Selain pendangkalan sungai, warga juga menyoroti keberadaan jembatan beton di jalan utama Gampong Meunasah Tambo yang dinilai terlalu rendah serta memiliki tiang penyangga di tengah sungai, sehingga kerap menjadi tempat tersangkutnya sampah dan kayu hanyut.
“Tiang tengah jembatan sering menyangkut sampah dan kayu kiriman. Akibatnya aliran air tersumbat dan meluap ke pemukiman. Solusinya harus dibangun jembatan baru yang lebih tinggi tanpa tiang tengah, agar sampah bisa langsung terbawa arus ke laut,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, warga di kedua gampong masih siaga memantau debit air, mengingat kondisi cuaca di Kabupaten Bireuen dan sekitarnya masih berpotensi hujan.








