Jurnalis : Zubir
BIREUEN, BEDAHNEWS.com – Hari pertama masuk sekolah di SMKN 1 Peusangan, Kabupaten Bireuen, Senin (5/1/2026), berlangsung jauh dari suasana belajar normal. Sekolah yang berlokasi di Gampong Raya Dagang ini menjadi salah satu titik terdampak paling parah akibat banjir bandang yang menerjang kawasan tersebut.
Pantauan Bedahnews.com di lokasi menunjukkan endapan lumpur tebal masih menutupi hampir seluruh area sekolah. Di sejumlah titik, terutama pada bangunan lama yang berada di dataran lebih rendah, genangan air sisa banjir masih terlihat.
Terjangan air bercampur lumpur menyebabkan kerusakan signifikan pada berbagai fasilitas pendidikan. Kursi, meja, hingga peralatan elektronik tampak dikeluarkan dari ruang kelas dan dibiarkan di luar ruangan dalam kondisi kotor dan berlumpur.
Kepala SMKN 1 Peusangan, Joko Trianto, ST, M.Pd., mengungkapkan bahwa sejumlah aset penting sekolah mengalami kerusakan cukup serius akibat terendam banjir.
“Beberapa unit komputer serta alat praktik siswa, seperti mesin jahit, rusak karena terendam air yang datang dengan cepat,” jelasnya.
Pemandangan tak biasa tampak sejak pagi hari. Para siswa datang ke sekolah bukan dengan sepatu hitam mengkilap, melainkan mengenakan sepatu boot plastik. Seragam sekolah pun diganti dengan pakaian olahraga atau baju bebas yang lebih memungkinkan untuk melakukan kerja bakti.
Hal serupa juga terlihat pada para guru. Baik guru laki-laki maupun perempuan kompak mengenakan sepatu boot. Sebagian bahkan telah membawa peralatan kebersihan seperti sekop dan sapu lidi saat memasuki lingkungan sekolah yang masih licin dan berlumpur.
Sekitar pukul 08.00 WIB, apel pagi digelar secara sederhana di lapangan tengah sekolah yang masih becek. Apel dipimpin oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah IV Bireuen, Abdul Hamid, S.Pd., M.Pd., didampingi Kepala SMKN 1 Peusangan.
Dalam arahannya, Joko Trianto menegaskan bahwa kegiatan belajar mengajar (KBM) formal di kelas untuk sementara ditiadakan. Sebagai gantinya, sekolah menerapkan konsep pembelajaran berbasis gotong royong dengan fokus pada pemulihan lingkungan sekolah.
“Selama satu minggu ke depan, kegiatan belajar difokuskan pada pembersihan sisa lumpur. Para guru dan wali kelas kami minta untuk mendampingi dan mengarahkan siswa dalam kegiatan gotong royong ini,” ujarnya.
Ia juga mengimbau agar seluruh warga sekolah turut memilah aset yang masih bisa diselamatkan. Barang-barang yang masih layak pakai diminta segera dibersihkan agar tidak mengalami kerusakan lebih lanjut.
Hingga berita ini diturunkan, satu unit alat berat masih disiagakan di area SMKN 1 Peusangan untuk membantu mengeruk endapan lumpur yang cukup tebal, sekaligus mempercepat pemulihan akses jalan di dalam kompleks sekolah.








