Sembilan Madrasah di Bireuen Rusak Berat Diterjang Banjir, Aktivitas Belajar Dimulai Senin

  • Whatsapp

Jurnalis : Zubir

BIREUEN, BEDAHNEWS.com – Sebanyak sembilan madrasah di bawah naungan Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Kabupaten Bireuen hingga kini masih dipenuhi endapan lumpur tebal dan mengalami kerusakan berat akibat banjir bandang yang terjadi pada akhir November lalu.

Muat Lebih

Meski kondisi belum sepenuhnya pulih, Kankemenag Bireuen memastikan kegiatan belajar mengajar tetap diupayakan berjalan mulai Senin, 5 Januari, dengan memanfaatkan ruang-ruang yang telah dibersihkan serta berbagai langkah darurat.

Kepala Kankemenag Bireuen, Dr. H. Zulkifli, SAg, MPd, melalui Kepala Seksi Pendidikan Madrasah (Kasi Penmad), Anis, SAg, kepada Bedahnews.com, Sabtu (3/1), mengatakan, total terdapat 86 madrasah yang terdampak banjir bandang tersebut, dengan tingkat kerusakan mulai dari ringan hingga berat.

Anis merinci, pada jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI) terdapat 54 MI Negeri dan 2 MI Swasta yang terdampak. Untuk jenjang Madrasah Tsanawiyah (MTs), tercatat 10 MTs Negeri dan 2 MTs Swasta di lingkungan pesantren atau dayah. Sementara pada jenjang Madrasah Aliyah (MA), terdapat 6 MA Negeri dan 4 MA Swasta, serta 2 unit Raudhatul Athfal (RA).

“Namun hingga awal Januari ini, masih ada sembilan madrasah yang kondisinya tergolong paling parah, dengan lumpur yang belum sepenuhnya teratasi dan kerusakan cukup berat,” ujar Anis.

Kesembilan madrasah tersebut yakni MIN 43 Cot Ara, MIN 47 Punjot, MIN 10 Lueng Daneun, MIN 48 Alue Kuta, dan MIN 3 Kuta Baro. Selain itu, MTsN 11 Bireuen Krueng Panjoe, MTsN Lueng Daneun, MTsN 1 Bireuen Gandapura, serta MAN 5 Bireuen Gandapura.

Untuk memastikan proses pendidikan tetap berjalan, Kankemenag Bireuen telah mengambil sejumlah langkah darurat. Ruang kelas yang sudah dibersihkan akan langsung difungsikan sebagai ruang belajar sementara.

“Kami akan segera mengirimkan mobiler ke ruangan yang sudah siap digunakan. Sebelumnya, Kankemenag juga telah menyalurkan bantuan berupa genset, pompa air, hingga alat berat guna mempercepat proses pembersihan,” jelas Anis.

Menyikapi kondisi siswa yang banyak kehilangan perlengkapan sekolah akibat banjir, Kankemenag Bireuen juga memberikan kebijakan khusus terkait penggunaan seragam.

“Bagi siswa yang seragamnya rusak atau hilang, diperbolehkan mengenakan pakaian bebas yang sopan. Kami tidak ingin persoalan seragam menjadi penghambat anak-anak untuk kembali bersekolah,” tegasnya.

Selain itu, Kankemenag Bireuen telah memesan sekitar 1.000 tas sekolah yang akan dibagikan kepada siswa dari madrasah yang terdampak paling parah.

“Insya Allah tas-tas tersebut segera tiba dan akan langsung kami distribusikan ke sekolah-sekolah sasaran. Harapannya, meski dalam keterbatasan, kegiatan belajar mengajar tetap bisa berjalan,” pungkas Anis.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *