Jurnalis : Zubir
BIREUEN, BEDAHNEWS.com – Pemerintah Kabupaten Bireuen melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi munculnya berbagai penyakit pascabencana banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah.
Kondisi lingkungan yang masih tercemar lumpur, terbatasnya akses air bersih, serta kepadatan di lokasi pengungsian menjadi faktor utama meningkatnya risiko penyebaran penyakit menular.
Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Bireuen, dr. Irwan, mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala gangguan kesehatan sekecil apa pun. Ia meminta warga segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat apabila merasakan keluhan.
“Masyarakat diharapkan tetap menjaga kebersihan lingkungan. Jika muncul gejala penyakit, segera periksa ke puskesmas atau posko kesehatan terdekat,” ujar dr. Irwan kepada Bedahnews.com, Kamis (1/1/2026).
ISPA dan Diare Dominasi Kasus Pascabanjir
Berdasarkan pemantauan lapangan selama sebulan terakhir pascabencana, tim medis Dinas Kesehatan mencatat peningkatan pada tiga jenis penyakit yang paling banyak diderita warga terdampak, yakni Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), penyakit kulit seperti gatal-gatal dan infeksi jamur, serta diare.
Menurut dr. Irwan, kondisi tersebut erat kaitannya dengan paparan debu dan lumpur pascabanjir, sanitasi yang belum sepenuhnya pulih, serta penggunaan air yang belum steril.
Selain itu, ia juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi Leptospirosis, penyakit infeksi yang disebabkan bakteri Leptospira yang umumnya ditularkan melalui air banjir yang tercemar urine hewan, terutama tikus.
Waspadai Gejala Leptospirosis
Dr. Irwan menjelaskan, Leptospirosis tergolong penyakit berbahaya apabila tidak segera ditangani. Sejumlah gejala awal yang perlu diwaspadai antara lain demam tinggi secara mendadak, sakit kepala hebat, serta nyeri otot, terutama pada bagian betis.
“Jika ditemukan warga dengan gejala tersebut, tim medis akan segera melakukan pengambilan sampel untuk pemeriksaan laboratorium. Hingga saat ini belum ditemukan kasus Leptospirosis di Bireuen, namun langkah antisipasi tetap menjadi prioritas,” tegasnya.
Edukasi dan Pencegahan Terus Digencarkan
Dinas Kesehatan Bireuen terus melakukan edukasi kepada masyarakat agar menerapkan langkah-langkah pencegahan secara mandiri. Untuk mencegah ISPA, warga diimbau menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah, terutama di area yang masih berdebu akibat sisa banjir.
Terkait pencegahan diare, dr. Irwan menekankan pentingnya penggunaan air bersih yang telah disterilkan. Ia juga meminta masyarakat mengizinkan petugas kesehatan melakukan kaporisasi pada sumur warga yang terdampak banjir.
“Kami mengharapkan kerja sama masyarakat agar sumurnya dapat dilakukan kaporisasi. Ini langkah penting untuk mensterilkan air dari bakteri penyebab diare akibat pencemaran saat banjir,” tambahnya.
Dengan penerapan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) secara konsisten, Dinas Kesehatan berharap proses pemulihan pascabencana di Kabupaten Bireuen dapat berjalan optimal tanpa dibayangi ancaman wabah penyakit.








