Duka Blang Guron Pascabanjir Bandang: Rumah Tertimbun Lumpur, Sawah dan Kebun Rusak Total

  • Whatsapp

Jurnalis : Zubir

BIREUEN, BEDAHNEWS.com – Banjir bandang yang menerjang Kabupaten Bireuen pada akhir November 2025 lalu masih menyisakan duka mendalam bagi warga Desa Blang Guron, Kecamatan Gandapura. Hingga Jumat (2/1/2026), ratusan warga kehilangan mata pencaharian, sementara rumah-rumah mereka masih tertimbun endapan lumpur tebal yang belum tertangani secara menyeluruh.

Muat Lebih

Keuchik Blang Guron, Munzir, mengungkapkan bahwa sebanyak 119 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 580 jiwa terdampak langsung oleh musibah tersebut. Kondisi desa hingga kini masih sangat memprihatinkan, dengan rumah warga, fasilitas umum, hingga lahan pertanian tertutup lumpur bercampur material tanah.

“Kondisi warga seperti kembali ke titik nol. Rumah penuh lumpur, kebun rusak, dan sawah tidak bisa digarap lagi karena ketebalan lumpur yang sangat ekstrem,” ujar Munzir kepada Bedahnews.com.

Banjir bandang diketahui menghantam Blang Guron dari dua arah, yakni utara dan timur, akibat luapan Krueng Sawang. Rumah-rumah warga yang berada dalam radius sekitar 300 meter dari aliran sungai mengalami kerusakan paling parah. Tidak hanya bangunan, tanaman perkebunan warga pun mati tertimbun sedimen tebal.

Pantauan di lapangan menunjukkan, warga berupaya membersihkan bagian dalam rumah secara mandiri dengan peralatan seadanya. Namun, upaya tersebut kerap terkendala kondisi cuaca yang belum stabil.

“Dua hari lalu lumpur hampir kering dan sudah kami angkat. Tapi semalam hujan turun lagi, jadi becek dan masuk kembali ke rumah,” keluh seorang ibu rumah tangga sambil membersihkan lantai rumahnya.

Meski pada siang hari posko pengungsian mulai sepi karena warga kembali ke rumah untuk membersihkan lumpur, Camat Gandapura, Azmi, menyebutkan bahwa pada malam hari banyak warga memilih kembali ke posko pengungsian atau meunasah.

“Banyak rumah belum layak ditempati karena rusak berat dan masih tertimbun lumpur. Selain Blang Guron, desa-desa seperti Ceubo, Teupin Siron, dan Samuti Aman juga mengalami kondisi serupa,” jelas Azmi.

Bahkan di Desa Samuti Aman, dampak banjir bandang disebut lebih ekstrem. Sebagian kawasan permukiman warga kini berubah menjadi aliran sungai baru akibat derasnya arus banjir beberapa waktu lalu.

Hingga kini, warga di sejumlah desa terdampak masih sangat bergantung pada bantuan pemerintah dan relawan. Pasalnya, sumber utama penghidupan mereka, seperti sawah dan kebun, hancur total dan belum memungkinkan untuk kembali diolah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *