Jurnalis : Zubir
BIREUEN, BEDAHNEWS.com – Luapan Krueng Bate Iliek yang terjadi sejak 25 hingga 27 Desember 2025 mengakibatkan banjir bandang dan material lumpur menerjang Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen. Hingga Senin (29/12/2025), warga masih berjibaku membersihkan sisa endapan tanah dan pasir setebal hampir satu meter yang menutup permukiman.
Camat Samalanga, Muhammad Rizal, menyebutkan bahwa 31 dari 46 gampong terdampak dalam bencana ini. Ketinggian air saat puncak banjir bahkan mencapai dada orang dewasa. Ia menegaskan bahwa kebutuhan paling mendesak adalah alat berat untuk membuka akses yang masih tertutup timbunan lumpur dan pasir.
“Banyak lorong desa belum bisa dilalui. Tanah menutupi halaman rumah warga. Jika hujan turun lagi, air dan lumpur berpotensi masuk kembali,” ujar Rizal saat meninjau lokasi bersama Imum Mukim Mesjid Raya, Jamaluddin.
Berdasarkan pendataan yang dihimpun dari keuchik, empat unit rumah dilaporkan hilang terseret arus, masing-masing tiga di Gampong Meurah dan satu di Gampong Cot Meurak Blang. Selain itu, total 3.690 rumah terdampak dengan rincian:
Rusak berat: 210 unit
Rusak sedang: 2.126 unit
Rusak ringan: 1.354 unit
Tak hanya permukiman warga, sejumlah fasilitas publik juga terdampak. Bendung Irigasi Lhok Pudeng, objek wisata Bate Iliek, Masjid Al-Mabrur, hingga bilik Dayah Nurul Hidayah dilaporkan rusak berat, bahkan beberapa bagian ambruk.
Desak Normalisasi dan Tanggul Pengaman
Imum Mukim Mesjid Raya, Jamaluddin, meminta pemerintah melakukan normalisasi aliran sungai hingga ke muara. Upaya ini dinilai penting untuk mencegah banjir susulan.
“Kami butuh tanggul pengaman tebing. Erosi sudah meluas dan sangat membahayakan pemukiman warga. Normalisasi sepanjang 10 kilometer dari Irigasi Lhok Pudeng sampai Kuala Pante Rheng harus segera dilakukan,” tegasnya.
Alat Berat Beroperasi, Warga Keluhkan Debu dan Masalah Kesehatan
Sementara itu, pelaksana lapangan pembersihan jalan, Mustawa alias Keuchik Caplen, menyebutkan alat berat bantuan Pemkab Bireuen telah bekerja lima hari terakhir untuk membuka akses jalan protokol. Tahap berikutnya, excavator mini akan ditempatkan di area dayah, lorong desa, dan halaman rumah yang belum tersentuh.
Namun, kondisi pascabanjir juga memunculkan persoalan baru. Keuchik Mideun Jok, Faisal, menyoroti ancaman gangguan kesehatan akibat debu tebal yang beterbangan saat cuaca panas.
“Kami memohon Pemkab Bireuen atau Pemerintah Aceh mengirim mobil tangki air untuk menyiram jalanan. Debu sangat tebal dan membahayakan pernapasan warga,” pungkasnya.








