Jurnalis : Zubir
TAKENGON, BEDAHNEWS.com – Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi PKB, H. Ruslan M. Daud (HRD), meninjau langsung kondisi jalur Lintas Tengah Bireuen–Takengon yang kini dalam kondisi memprihatinkan, Minggu (28/12).
Politikus senior yang akrab disapa HRD ini menegaskan bahwa tujuh jembatan di jalur strategis nasional tersebut sudah tidak layak dan harus segera dibangun ulang demi mencegah terisolasinya wilayah dataran tinggi Gayo.
“Ini jalur utama nasional lintas tengah. Kalau akses ini terganggu, dampaknya sangat luas. Masyarakat bisa terisolasi, harga barang melonjak, dan roda ekonomi dapat terhenti,” ujar HRD di sela-sela peninjauan.
Berdasarkan pantauan di lapangan, terdapat tujuh jembatan dan satu struktur drainase (box) yang menjadi perhatian utama karena kondisinya yang kritis.
Selanjutnya ada 7 Jembatan yang sangat di butuh oleh masyarakat, Jembatan Teupin Mane (KM 10), Jembatan Wehni Kulus (KM 47), Jembatan Enang-Enang (KM 50), Jembatan Krung Rongka (KM 60), Jembatan Tenge Besi (KM 62), Jembatan Timang Gajah (KM 65), Box Culvert di Lampahan (KM 73) dan Jembatan Jamur Ujung (KM 80)
HRD mengingatkan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) agar tidak asal-asalan dalam melakukan pembangunan ulang. Mengingat kawasan tengah Aceh memiliki kerentanan tinggi terhadap tanah longsor, perencanaan harus dilakukan dengan kajian teknis yang mendalam.
“Jangan hanya asal jadi. Kita dorong Ditjen Bina Marga untuk benar-benar menghitung potensi bencana dalam memilih jenis jembatan. Kalau tidak diantisipasi, begitu ada bencana lagi, jembatan bisa hancur kembali,” tegasnya.
Ia juga merekomendasikan opsi penggeseran posisi jembatan dari titik lama (relokasi) untuk mencari struktur tanah yang lebih stabil dan aman bagi pengguna jalan.
Khusus untuk kawasan Enang-Enang yang dikenal dengan kelokan tajam dan ekstrem, HRD memberikan catatan khusus. Meski sebelumnya ada wacana pemotongan bukit untuk efisiensi biaya, namun melihat kerusakan akibat longsor yang kian parah, ia mendesak pembangunan jembatan layang (flyover).
“Meskipun lebih mahal, jembatan layang adalah pilihan paling aman untuk jangka panjang di Enang-Enang,” katanya lagi.
Sebagai mitra pemerintah, HRD berkomitmen mengawal agar proyek rehabilitasi tujuh jembatan ini masuk dalam prioritas rehab-rekonstruksi bencana hidrometereologi Aceh.
Dalam kunjungan tersebut, HRD didampingi langsung oleh pejabat teras Kementerian PU, Ir. Roy Rizali Anwar (Dirjen Bina Marga),
Rakhman Taufik (Direktur Pembangunan Jembatan), Heri Yugiantoro (Kepala BPJN Aceh) dan Dr. Ir. Hedy Rahadian & Dr. Ir. Arie Setiadi Moerwanto (Satgas Penanganan Bencana Sumatra).
“Kehadiran para pakar dan pejabat pengambil kebijakan ini kita harapkan menjadi langkah awal percepatan pembangunan infrastruktur strategis di Aceh. Jalur Lintas Tengah harus aman dan berfungsi optimal sesegera mungkin,” pungkas HRD.








