Jurnalis : Zubir
BIREUEN, BEDAHNEWS.com – Bencana banjir bandang yang melanda kawasan Tingkeum Mayang, Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen, Aceh, pekan lalu menyisakan dampak kerusakan yang sangat parah. Selain memutuskan jembatan lintasan nasional, banjir tersebut juga menelan belasan rumah warga hingga kini berubah menjadi alur sungai.
Keuchik Tingkeum Mayang, Ir. Mawardi, kepada Bedahnews.com, Senin (8/12/2025), menyebutkan bahwa sebanyak 16 unit rumah warga hilang total, sementara 13 unit rumah mengalami rusak berat dan 16 unit lainnya rusak ringan.
“Ini masalah serius bagi warga kami. Tempat tinggal mereka sudah tidak ada lagi, sementara banyak juga rumah yang mengalami kerusakan berat,” ujar Mawardi.
Tak hanya itu, kerusakan juga melanda sektor usaha. Sejumlah ruko dan usaha doorsmeer dilaporkan mengalami kerusakan berat. Sektor pertanian pun ikut terdampak setelah dua unit pompa air untuk kebutuhan sawah hancur total, membuat pasokan air irigasi lumpuh.
“Dua unit pompa air sawah juga hancur. Ini masalah besar bagi pertanian, karena suplai air ke sawah sudah terputus,” tambahnya.
Jumlah pengungsi sendiri tercatat telah menurun drastis, dari sebelumnya 1.927 jiwa kini tersisa 89 jiwa. Sebagian besar warga memilih kembali ke rumah untuk melakukan pembersihan sisa lumpur dan puing banjir. Namun, kondisi kesehatan para pengungsi mulai memprihatinkan, dengan keluhan penyakit seperti demam dan gatal-gatal.
Tim medis dari Posko Kesehatan Kutablang pun bergerak cepat memberikan penanganan.
“Tadi tim medis turun langsung ke meunasah dan mengobati 24 warga yang sakit. Penanganan dilakukan dengan cepat,” jelas Mawardi.
Dari sisi logistik, Keuchik memastikan bahwa stok di dapur umum masih mencukupi untuk dua pekan ke depan. Bantuan terus berdatangan, baik dari Pemerintah Kabupaten Bireuen, donatur lokal, kelompok donatur internasional dari Australia dan Malaysia, hingga pengusaha asal Medan. Bantuan tersebut mencakup kebutuhan pokok seperti beras, makanan siap saji, perlengkapan mandi, hingga pakaian layak pakai.
Namun demikian, perhatian utama saat ini tertuju pada nasib warga yang rumahnya hilang terseret banjir dan kini telah menjadi alur sungai. Hingga kini, belum terdapat kejelasan terkait penanganan dan relokasi bagi para korban yang kehilangan hunian secara permanen.
“Untuk rumah warga yang sudah menjadi sungai, sampai sekarang belum ada kepastian penanganannya,” pungkas Mawardi.








