BIREUEN, BEDAHNEWS.com – Ribuan petani di Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen, kini berada dalam kondisi memprihatinkan akibat infrastruktur irigasi yang rusak parah dan proyek pembangunan yang tak kunjung usai.
Kerusakan pada Irigasi Hagu yang terjadi sejak awal tahun 2024 diperparah dengan belum tuntasnya pengerjaan proyek Irigasi Aneuk Gajah Rheut yang telah berjalan sejak tahun 2017.
Akibatnya, lahan pertanian produktif di wilayah tersebut terpaksa dibiarkan terlantar selama empat musim tanam terakhir, mengancam mata pencaharian petani dan ketahanan pangan daerah.
Keterangan tersebut disampaikan oleh Yusrizal, anggota Tuha Peut Desa Lawang Peudada, didampingi oleh tokoh masyarakat setempat, Khairul Amri dan Muhammad Amin Hamzah. Mereka mengungkapkan keprihatinan mendalam atas kondisi irigasi yang menjadi sumber kehidupan utama bagi para petani di Peudada.
“Kerusakan Irigasi Hagu semakin parah setelah pintu air dan bangunan pendukungnya ambruk. Ini membuat aliran air ke sawah benar-benar terhenti,” ujar Yusrizal, Senin (14/4/2025).
Sementara itu, harapan petani untuk mendapatkan pasokan air dari proyek Irigasi Aneuk Gajah Rheut juga belum membuahkan hasil.
Proyek yang digagas pada masa pemerintahan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf tersebut hingga kini belum rampung. Padahal, keberadaan irigasi yang terletak sekitar 4 kilometer di selatan Keude Peudada ini sangat krusial untuk mengairi areal persawahan yang luas di sekitarnya.
Pantauan di lokasi menunjukkan bahwa bangunan utama Irigasi Aneuk Gajah Rheut memang masih berdiri kokoh. Namun, beberapa bagian penting seperti abutment pintu bendungan mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan.
Ironisnya, debit air di bendungan saat ini sangat minim, berbanding terbalik dengan kondisi lahan di sekitarnya yang justru terlihat subur dan bahkan ditanami jagung, mengindikasikan potensi pertanian yang besar jika ketersediaan air terjamin.
Kondisi ini memaksa ribuan petani di Peudada untuk gigit jari dan tidak dapat mengolah lahan mereka selama empat musim tanam terakhir. Dampaknya tidak hanya dirasakan secara ekonomi oleh para petani, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas pasokan pangan di tingkat lokal.
Masyarakat Peudada pun mendesak pemerintah di berbagai tingkatan, mulai dari pemerintah daerah Kabupaten Bireuen, Pemerintah Provinsi Aceh, hingga pemerintah pusat, untuk segera mengambil tindakan nyata dalam menyelesaikan permasalahan infrastruktur irigasi ini.
Warga desa walang berharap agar pembangunan Irigasi Aneuk Gajah Rheut dapat segera dituntaskan dan perbaikan Irigasi Hagu dapat diprioritaskan.
Camat Peudada, Erry Seprinaldi, turut menyampaikan keprihatinannya atas kondisi yang dihadapi para petani. Ia menekankan betapa pentingnya penanganan serius terhadap kerusakan dan ketidakjelasan proyek irigasi ini demi menjaga ketahanan pangan wilayah Kecamatan Peudada dan Kabupaten Bireuen secara keseluruhan.
“Masalah irigasi ini harus menjadi perhatian utama. Jika tidak segera ditangani, dampaknya akan semakin meluas dan merugikan masyarakat kami,” tegas Erry Seprinaldi.
Diharapkan, dengan adanya desakan dari masyarakat dan perhatian dari pemerintah kecamatan, solusi konkret dapat segera ditemukan agar ribuan petani di Peudada dapat kembali bercocok tanam dan mengembalikan kejayaan sektor pertanian di wilayah tersebut. Nasib ribuan keluarga petani kini bergantung pada respons cepat dan efektif dari pihak-pihak terkait.
Laporan : Zubir