Jurnalis : Marie F Solin
Pakpak Bharat, BEDAHNEWS.com – Angka kematian ibu dan bayi saat ini di Indonesia belum mencapai target Sustainable Development Goals (SGD’s). Berbagai strategi penurunan AKI dan AKB harus dilakukan, antar lain akses pelayanan, peningkatan kualitas pelayanan kesehatan, peningkatan pemberdayaan masyarakat dan penguatan tata kelola, dengan salah satu upaya terobosan adalah dengan penetapan kabupaten/kota lokus penurunan AKI dan AKB yang diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan dan dilaksanakan secara bertahap.
Seiring dengan penetapan 120 Kabupaten/Kota lokus tersebut, diperlukan suatu pelatihan untuk meningkatkan kapasitas dokter dalam melakukan pelayanan asuhan antenatal,persalinan dan nifas sesuai dengan kompetensi dalam Standar Nasional Pendidikan Profesi Dokter Indonesia (SNPPDI) 2019.
Pelatihan ini merupakan salah satu upaya menurunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi. Dimana pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dokter dalam pelayanan antenatal, persalinan,dan pelayanan masa nifas bagi ibu. Pelatihan ini juga ditujukan untuk meningkatkan kemampuan dokter dalam mendeteksi penyulit medis obstetri dan penyulit medis non obstetri. Dalam pelatihan ini diikuti oleh 4 orang dokter dari Kabupaten Pakpak Bharat. Yaitu dr. Andi Haris Nasution dari Puskesmas Sibande, dr. Ribu Anna dari Puskesmas Sukaramai, dr. Randy Ginting dari Puskesmas Siempat Rube dan dr. Helmi Harianja dari Puskesmas Salak.
Selama proses pelatihan, para dokter dibimbing oleh fasilitator dari Kementrian Kesehatan, mentor dari RSUD Salak yang terdiri dari dokter spesialis kandungan dan kebidanan, dokter spesialis anak dan dokter spesialis penyakit dalam, juga diawasi oleh observer dari Dinas Kesehatan Kabupaten dan dari IDI.
Kiranya pelatihan ini dapat membantu menurunkan AKI dan AKB nasional khusunya di Kabupaten Pakpak Bharat.