Sabtu Pagi, Bakam menjadi Kegiatan Rutin Sekolah di Bireuen

  • Whatsapp
banner 468x60

Sejumlah siswa dan guru SMA Negeri 1 Peulimbang Bireuen bergotong royong bersama.(BEDAHNEWS.com/Zubir).

Jurnalis: Zubir

Muat Lebih

BIREUEN, BEDAHNEWS.com – Bakti Kampus (Bakam) sekolah mengandung nilai pembelajaran. Setiap Sabtu pagi Bakam menjadi kegiatan rutin yang dilakukan oleh sekolah mulai tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kabupaten Bireuen.

Ada suatu masa di Kabupaten Bireuen, tepatnya 2016 lalu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bireuen Drs. Nasrul Yuliansyah, M.Pd selalu mengirim pesan WhatsApp kepada seluruh pimpinan sekolah (Kepala Sekolah) untuk melaksanakan kegiatan Bakti Kampus bersama (Kepala Sekolah, Dewan Guru dan para siswa-siswi) dengan mengambil waktu selama 30 menit hingga 40 menit.

Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Peulimbang Hasan Basri, S.pd, MM

Kepala Dinas memonitoring serta mengevaluasi di lapangan. Hasil dari monitoring lapangan yang  diperoleh secara langsung bersama timnya, para pimpinan sekolah di kumpulkan semua ke Bireuen untuk menyampikan hasil kunjugannya ke kelapangan secara dadakan, sebagai bahan evaluasi bersama setiap sekolah.

“Yang sudah baik, mohon dipertahankan, yang belum teruslah mengajak teman-teman dewan guru guru, kita kepala sekolah para siswa-siswi untuk terus melaksanakan kegiatan itu secara rutin sehingga menjadi budaya sekolah di sepanjang waktu yang kita lalui,” kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bireuen Drs. Nasrul Yuliansyah, M.Pd.

Terlepas dari yang disampaikan kepala dinas, kita akui atau tidak, ada nilai pembelajaran yang kita peroleh dari kegiatan Bakti Kampus tersebut.

Dulu, di negeri kita, ada yang namanya gotong royong, seiring perjalan peradaban, kata-kata itu semakin asing kita dengark serta aksinya di setiap desa di seluruh Indonesia. Gotong royong merupakan istilah Indonesia untuk bekerja bersama-sama untuk mencapai suatu hasil yang didambakan. Istilah ini berasal dari kata bahasa Jawa gotong yang berarti “mengangkat” dan royong yang berarti “bersama”. Bersama dengan musyawarah, Pancasila, hukum adat, ketuhanan, serta kekeluargaan, gotong royong menjadi dasar filsafat Indonesia seperti yang dikemukakan Guru SMA Negeri 1 Peulimbang M. Nasroen.

Siswa-siswi SMA Negeri 1 Peulimbang bergotong royong bersama.

“Gotong royong atau bakti kampus menjadi kegiatan rutin yang kami lakukan setiap Sabtu pagi di SMA N 1 Peulimbang. Dan kegiatan bakti kampus ini sudah kami jadikan sebagai budaya sekolah yang harus dilakukan,” sebut Nasroen.

Nasroen menjelaskan, sebagai pimpinan sekolah harus ikut serta dalam kegiatan Bakam, tidak hanya memerintah atau menunjuk-nunjuk, tapi harus ada aksi kita dilapangan bersama-sama dengan para dewan guru dan siswa-siswi.

“Terlepas, tak perlu menggubris, kalau teman-teman dewan guru mengklaim bahwa itu aksi caper. Kita adalah cermin bagi para dewan guru, dewan guru cermin bagi para siswa-siswi, cermin akan terpantul apa yang ada dihadapannya, begitu dengan kita, tidak salah kalau bawahan kita bersikap beda di antara sesama dewan guru,” tambahnya.

Bakam itu juga mengajarkan nilai-nilai kebersamaan serta membiasakan para siswa-siswi untuk selalu menjaga kebersihan dirumah, kampung, di dayah dan di tempat mereka menuntut ilmu, serta mempererat silaturahmi di antara para siswa-siswi, dewan guru, tenaga administrasi dan kepala sekolah.

Masyarakat sekolah harus selalu bisa bersama, tidak hanya saat membersihkan sesuatu tapi juga dilain aktifitas. Bakam mengajarkan para siswa-siswi yang malas akan berubah dengan melihat aktifitas temannya, dikarenakan mereka di rumah jarang melakukan aktifitas itu, para dewan guru juga sama kiranya. Kebersihan setengah dari pada iman, Allah menyukai orang – orang bersih, indah.

Di tengah suasana Covid-19 yang sudah melampaui akal sehat kita, maka kita perlu selalu ikuti Protokoler Kesehatan (Prokes), dalam protokoler kesehatan, kita di haruskan menjaga kebersihan, pakai masker, cuci tangan pakai sabun saat tiba di sekolah, keluar masuk ruangan kelas serta pada saat meninggalkan lokasi sekolah. Maka sudah seharusnya budaya Bakam harus dipertahankan di setiap sekolah, sehingga terhindar dari segala bentuk penyakit dan virus. Indah, rapi dan bersih dambaan kita semua, tidak hanya diucap, tapi perlu bukti aksinya. Semoga menjadi pembelajaran kita semua. Sekolah hebat, sekolah bersih.

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *